Selasa, 14 April 2015

Tanda-tanda Ajal akan Menjemput Kita

sumber gambar
Bismillahirrohmanirrohim.

ALLAH Subhanahu Wata'ala telah memberi tanda kematian seorang muslim sejak 100 hari, 40 hari, 7 hari, 3 hari dan 1 hari menjelang kematian..

Tanda 100 hari menjelang ajal : Selepas waktu Ashar (Di waktu Ashar karena pergantian dari terang ke gelap), kita merasa dari ujung rambut sampai kaki menggigil, getaran yang sangat kuat, lain dari biasanya, bagi yang menyadarinya akan terasa indah di hati, namun yang tidak menyadari, tidak ada pengaruh apa-apa..

Tanda 40 hari menjelang kematian : Selepas Ashar, jantung berdenyut-denyut.. Daun yang bertuliskan nama kita di lauh mahfudz akan gugur. Malaikat maut akan mengambil daun kita dan mulai mengikuti perjalanan kita sepanjang hari.

Tanda 7 hari menjlang ajal: Akan diuji dengan sakit, Orang sakit biasanya tidak selera makan. Tapi dengan sakit ini tiba-tiba menjadi berselera meminta makanan ini dan itu.



Tanda 3 hari menjelang ajal : Terasa denyutan ditengah dahi, Jika tanda ini dirasa, maka berpuasalah kita, agar perut kita tidak banyak najis dan memudahkan urusan orang yang memandikan kita nanti..

Tanda 1 hari sebelum kematian : Di waktu Ashar, kita merasa 1 denyutan di ubun-ubun, menandakan kita tidak sempet menemui Ashar besok harinya.. Bagi yang khusnul khotimah akan merasa sejuk di bagian pusar, kemudian ke pinggang lalu ketenggorokan, maka dalam kondisi ini hendaklah kita mengucapkan 2 kalimat syahadat..

Sahabatku yang budiman, subhanALLAH, Imam Al-Ghazali, mengetahui kematiannya.. Beliau menyiapkan sendiri keperluannya, beliau sudah mandi dan wudhu, meng- kafani dirinya, kecuali bagian wajah yang belum ditutup..
Beliau memanggil saudaranya Imam Ahmad untuk menutup wajahnya..

SubhanALLAH.. Malaikat maut akan menampakkan diri pada orang- orang yang terpilih.. Dan semoga kita menjadi hamba yang terpilih dan siap menerima kematian kapanpun dan di manapun kita berada..
Dan semoga akhir hidup kita semua Husnul Khatimah, Aamiin..(Sumber: Fans Page Ustadz Yusuf Mansur)

@hendraahong

Senin, 13 April 2015

Pikir yang Dekat Dahulu Sebelum yang Jauh

sumber gambar
Dahulu kala di sebuah kerajaan di Eropa, seorang rakyat jelata dijatuhi hukuman seumur hidup karena kesalahan yang dibuatnya. Suatu malam, sang raja yang terkenal dengan kecerdikannya menyelinap ke penjara untuk menemuinya. Sang raja berkata,"Sekarang adalah kesempatanmu. Aku akan memberi tahumu satu rahasia agar kau selamat dari hukuman penjara seumur hidup. Didekatmu, ada satu jalan keluar yang tidak dijaga. Kalau berhasil menemukannya, kau akan selamat. Namun, jika tidak, kau akan disini selamanya. Waktumu hanya sampai matahari terbit!"

Usai mengatakan itu, raja keluar dari penjara. Malam itu juga, sang raja memerintahkan para pengawal penjara agar membiarkan tahanan itu mencari jalan keluarnya.


Selepas raja keluar, sang tahanan langsung memperhatikan dengan sesama ruang selnya. Ia melihat sebuah celah yang ditutup oleh karpet tebal. Harapan menghampirinya. Setelah ia buka, ternyata itu adalah tangga menuju ruang bawah tanah. Tahanan tersebut menelusuri tangga itu hingga ia merasakan udara dari luar ruangan, sehingga harapannya semakin besar. Akhirnya, ia sampai di sebuah benteng yang sangat tinggi, yang semua pintunya terkunci. Ia sadar dirinya tersesat. Segera ia memutuskan untuk kembali.

Untuk kedua kalinya, orang tiu mencari lubang di setiap sudut selnya. Ia memukul-mukulkan kedua tangannya pada dinding. Ternyata, ada salah satu batu yang bergerak. Ia bergembira. Setelah menarik batu itu, ia melihat lorong bawah tanah lain yang sempit, namun bisa ia masuki. Ia melalui lorong tersebut dengan merangkak dengan harapan bisa selamat sampai pintu keluar. Hampir dua pertiga malam ia terus merangkak. Sayangnya, di ujung lorong hanya ada sebuah celah yang tertutup rapat dengan sebuah pintu besi.

Untuk kedua kalinya, tahanan itu kembali dengan tangan hampa. Ia berusaha lagi mencari jalan keluar. Ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai penjara, menepuk-nepuk dinding dengan kencang dan mengintip celah di atap-atapnya. Namun, sayang sampai sinar matahari memasuki ruang selnya, ia belun juga bisa keluar! Dan, ia terkejut karena menyadari sang raja telah berdiri di depan pintu.

"Kenapa kau masih di sini?" tanya sang raja.

Tahanan itu menjawab dengan ketus, "Kau membohongiku! Aku awalnya mengira kau memberitahuku dengan serius!"

Raja menanggapinya dengan dingin, "Loh, aku memang serius."

Tidak mungkin! aku sudah mencari jalan keluar tersebut di setiap sudut sel ini. mana buktinya? Semua celah yang ada buntu" ungkap si tahanan.

Sang raja berkata,"Engkau memang aneh. Pintu penjara ini tidak dikunci dari tadi malm. Engkau tidak pernah berfikir untuk mendorongnya. Benar, kan?"

Akhirnya, si tahanan menghabiskan sisa umurnya di penjara. (Sumber: Buku Halaqah Cinta)

@hendraahong

Sabtu, 11 April 2015

Gerakan Titip Infaq (Instagram: @infaq.id)

Akun-akun diatas merupakan akun di Instagram

Ide untuk membuat gerakan ini saya dapatkan dari kebiasaan ibu saya dulu yang selalu menitipkan infaq pada saya sebelum berangkat shalat jum'at saat saya masih bersekolah dulu. Selain itu, ide ini kembali dikuatkan setelah saya membaca beberapa buku yang bertajuk islam. Tapi semua ide ini datangnya dari Allah Swt. beberapa faktor tadi hanya tools Allah dalam menyampaikan ide ini kepada saya. 

Gerakan Titip Infaq (Instagram: @infaq.id)  ini lebih ditujukan untuk para perempuan dengan bantuan para laki-laki. Caranya sangat mudah, yaitu setiap hari Jum'at, jika dirumah kamu terdapat saudara laki-laki yang ingin berangkat shalat Jum'at maka para perempuan menitipkan infaq (seikhlas hati) kepada orang yang ingin pergi shalat itu. Dan laki-laki itu nanti yang menyampaikan titipan itu ke kotak amal di mesjid. 

Apabila kamu saat ini dalam perantauan, kamu bisa menitipkan infaqmu ke teman sekolah atau teman kuliah yang kamu temui pada Jum'at pagi atau sebelum waktu Shalat Jum'at berlangsung. Hal tersebut juga dapat memotivasi si laki-laki untuk tidak malas pergi Shalat Jum'at karena amanah yang sudah dititipkan padanya. Apabila laki-laki yang terlebih dahulu mengetahui tentang gerakan ini, maka alangkah baiknya Anda menjelaskan sedikit tentang gerakan ini dan apa saja manfaat yang dihasilkan dari gerakan ini. Semua orang dapat melakukan gerakan ini.


Gerakan ini sangat baik untuk meningkatan pendapatan operasional mesjid sehingga perawatan mesjid dilakukan dengan lebih baik. Dan untuk mesjid yang sedang dalam pembangunan atau renovasi dapat lebih cepat pengerjaannya karena mendapatkan bantuan lebih banyak dana.

Coba bayangkan, satu orang laki-laki yang pergi kemesjid membawa titipan infaq dari teman-teman wanita atau beberapa saudarinya dirumah, dipastikan pendapatan infaq mesjid akan meningkat berkali-kali lipat. Misalnya sebelum ada gerakan ini, jamaah Shalat Jum'at 200 orang dan yang memeberi infaq ada sekitar 160 orang dan kita misalkan pendapatan infaq minggu itu sebesar Rp 500.000,- Saat ceramah Jum'at, khatib memberi tahu tentang gerakan ini. Ketika Jum'at depan tiba, kita misalkan ada 220 orang yang datang untuk Shalat Jum'at, dan 150 orang berinfaq dan membawa titipan infaq dari teman atau saudarinya di rumah yang kita rata-ratakan tiap orang membawa titipan infaq dari 2 orang. Berarti kalau kita coba kalikan, maka penghasilan infaq hari itu naik lebih kurang 200% dari biasanya.  Subhanallah... 

Mari kita membantu mensosialisasikan gerakan ini, sehingga Islam akan semakin jaya. Karena Allah berfirman,"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. Al-Hajj: 40). Mari kita bantu sosialisasikan gerakan ini dengan share ke teman-teman lain. Terima Kasih.

@hendraahong

Selasa, 07 April 2015

Memberi Tanpa Diketahui


Silahkan tonton dahulu video diatas sebelum membaca postingan ini

“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim)

“Ya Rasulullah,  siapakah manusia yang paling dicintai Allah dan apakah perbuatan yang paling  dicintai oleh Allah ? Rasulullah SAW menjawab : “Manusia yang paling dicintai oleh  Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia  yang lain; sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan  kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain, atau  melunasi hutang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan  kepada mereka yang sedang kelaparan dan jika seseorang itu berjalan untuk  menolong orang yang sedang kesusahan itu lebih aku sukai daripada beri’tikaf di  masjidku ini selama satu bulan.” (HR. Thabrani)

”Siapa yang menolong  saudaranya yang lain maka Allah akan menuliskan baginya tujuh kebaikan bagi  setiap langkah yang dilakukannya.” (HR. Thabrani).

”Sedekah  itu dapat menolak tujuh puluh pintu bala.” (HR. Thabrani).

“Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba-Nya selama  hamba itu menolong orang yang lain“. (HR. Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi)

 ”Siapa yang berjalan menolong   orang yang susah maka Allah akan menurunkan baginya tujuh puluh lima ribu  malaikat yang selalu mendoakannya dan dia akan tetap berada dalam rahmat Allah  selama dia menolong orang tersebut dan jika telah selesai melakukan pertolongan  tersebut, maka Allah akan tuliskan baginya pahala haji dan umrah dan sesiapa  yang mengunjungi orang yang sakit maka Allah akan melindunginya dengan tujuh puluh lima ribu malaikat dan tidaklah dia mengangkat kakinya melainkan akan  dituliskan Allah baginya satu kebaikan, dan tidaklah dia meletakkan tapak  kakinya untuk berjalan melainkan Allah angkatkan daripadanya, Allah akan ampunkan baginya satu kesalahan dan tinggikan kedudukannya satu derajat sampai dia duduk disamping orang sakit, dan dia akan tetap mendapat rahmat sampai dia   kembali ke rumahnya.” (HR. Thabrani)

“Sesungguhnya sedekah yang sembunyi-sembunyi akan memadamkan  kemarahan Allah, dan setiap perbuatan baik akan mencegah keburukan dan silaturrahmi itu akan menambah umur dan menghilangkan kefaqiran dan itu lebih baik daripada membaca laa haula wa laa quwwata illaa billah padahal dengan membacanya saja akan mendapat perbendaharaan surga dan dengan berbuat baik itu  juga dapat menyembuhkan penyakit dan menghilangkan kegelisahan.” (HR. Thabrani)

 “Siapa yang berjalan untuk membantu saudaranya sesama muslim maka Allah akan menuliskan baginya suatu  kebaikan dari tiap langkah kakinya sampai dia pulang dari menolong orang  tersebut. Jika dia telah selesai dari menolong saudaranya tersebut, maka dia  telah keluar dari segala dosa-dosanya bagaikan dia dilahirkan oleh ibunya, dan  jika dia ditimpa kecelakaan (akibat menolong orang tersebut) maka dia akan  dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.”  (HR. Abu Ya’la)

”Sesiapa yang bersikap  ramah kepada orang lain dan meringankan beban hidupnya baik sedikit maupun  banyak maka kewajiban bagi Allah untuk memberikan kepadanya pelayanan dengan  pelayanan surge.” (HR. Thabrani)

 “Siapa yang mengunjungi seseorang  yang lain maka dia mendapatkan rahmat Allah dan siapa yang mengunjungi orang  yang sakit maka dia seperti berada di dalam taman-taman (raudhah) surge.” (HR. Thabrani)


”Amar Makruf dan mencegah kemungkaran yang kamu  lakukan adalah shalat. Menolong orang yang susah juga merupakan shalat.  Perbuatan menyingkirkan sampah dari jalan juga shalat dan setiap langkah yang  engkau lakukan menuju tempat shalat juga merupakan shalat.” (HR. Ibnu Khuzaimah)

@hendraahong

Kisah Kejujuran Penyelamat Jiwa Raga: Syaikh Abdul Qadir Jaelani

sumber gambar
Kejujuran merupakan sifat yang harus kita miliki, dimana pun, kapan pun, dan dalam kondisi apapun. Karena kejujuran itu walaupun terdengar pedih tetapi lebih baik daripada harus berbohong dengan menutup kebenaran satu dengan kebohongan lainnya, sehingga itu mengharuskan kita berbohong setiap saat. Berikut salah satu kisah teladan dari Syaikh Abdul Qadir Jaelani yang karena kejujurannya dapat menyelamatkannya dari perampok dan dengan izin Allah dapat membantu menginsafkan para gerombolan perampok.

Kisah ini berawal ketika Syaikh Abdul Qadir  Jaelani masih muda, ketika itu beliau sedang menggembalakan unta di gurun dan atas kekuasaan Allah, unta yang sedang di gembalakannya bicara kepada beliau, "Hai Abdul Qadir, engkau di ciptakan Allah bukan untuk menjadi seorang penggembala" dan Abdul Qadir Jaelani pun merasa heran dengan kejadian itu lalu dia pun memberitahukan kepada ibunya kejadian yang dialaminya itu.


Singkatnya, Abdul Qadir  Jaelani meminta ijin kepada ibunya untuk menuntut ilmu agama ke Bagdad. Mendengar niat anaknya,  ibunya pun merasa senang dan mengijinkannya untuk menimba ilmu agama kepada ulama-ulama besar di Bagdad. Ibunya pun berpesan pada anaknya, "Wahai Abdul Qadir, ibu meminta kepada kamu untuk berlaku jujur dalam tindakan dan ucapan selama kamu menimba ilmu disana, dan ibu memberikan bekal kepada kamu warisan dari ayahmu uang sebanyak  200 dinar untuk bekal kamu selama kamu disana. Apabila nanti ada rombongan pengusaha yang akan pergi kesana, alangkah baiknya kamu ikut rombongan itu.”

Abdul Qadir pun pergi dengan ridha ibunya. Ditengah perjalanan ada sekelompok gerombolan perampok yang menghadang rombongan Syaikh Abdul Qadir dan para pengusaha. Kelompok gerombolan ini terkenal bengis dan sadis. Satu persatu harta yang dibawa para rombongan pun dirampas. Pada saat perampok mendekati Abdul Qadir, ia pun bertanya kepada Abdul Qadir, "Hai anak muda, harta apa yang kamu miliki?” Abdul Qadir pun menjawab, “Aku punya uang 200 dinar, yang  kusimpan di bawah ketiak”. Anehnya, orang yang bertanya tadi malah tertawa dan tidak percaya.

Beliau pun di suruh pergi, dan bertemu lagi dengan anggota perampok yang lain. Ia ditanya lagi seperti pertanyaan tadi, dan orang ini pun tidak mempercayainya. Pada akhirnya, kepala perampoknya mendengar bahwa ada anak muda yang mengaku memiliki harta 200 dinar tapi tidak ada yang percaya. Disuruhlah Abdul Qadir untuk menghadap kepada kepala perampok tersebut. Kepala rampok tadi menanyakan pertanyaan sama dengan anak buahnya, Abdul Qadir menjawab dengan jawaban yang sama dan membuktikan bahwa dia memang memiliki uang 200 dinar.

Ketika melihat kebenaran dan kejujuran dengan anak muda ini (Syaikh Abdul Qadir Jaelani), para perampok  kaget dan tercengang. Dia pun bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau mau berkata jujur? Padahal dalam situasi serba susah begini?” Abdul Qadir menjawab "saya tidak ingin melanggar janji saya pada ibu saya dan saya tidak ingin membuat ibu saya merasa kecewa". Kepala rampok tersebut menanyakan kembali “Memang kamu telah berjanji apa pada ibu kamu? Padahal ibumu tidak akan mengetahuinya.” Lalu Abdul qQdir menjawab "Ibu saya mewasiatkan kepada saya untuk berlaku jujur dalam bertingkah laku dan berbicara walau dalam keadaan apapun".

Sejenak kepala rampok itu tertegun dengan jawaban Abdul Qadir itu, ia lalu berkata “Sungguh engkau sangat berbakti pada ibumu, dan engkau pun bukan orang sembarangan.” Kemudian kepala perampok itu menyerahkan kembali uang itu pada Abdul Qadir dan melepaskannya pergi.

Karena ketauladan dan kejujurannya, kepala perampok pun bertaubat di hadapan Syaikh Abdul Qadir. Ia  berjanji tidak akan melakukan perbuatan yang di larang Allah dan merugikan banyak orang. Dan hasil rampokannya pun dikembalikan kepada pemiliknya. Konon, sejak saat itu sang perampok menjadi insyaf dan membubarkan gerombolannya. sumber

@hendraahong

Minggu, 05 April 2015

Kejujuran: Hal yang Sudah Mulai Sulit Didapati

sumber
Salah satu sifat Rasulullah Saw. adalah Siddiq yaitu benar. Nabi Muhammad Saw. selalu berkata jujur. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan sikap umatnya saat ini, kejujuran dirasa begitu mahal saat ini. Tetapi tidak semua orang saat ini seperti itu, masih ada segelintir orang yang masih memegang teguh konsep kejujuran ini. Berikut saya akan menceritakan sedikit pengalaman dengan seseorang yang masih memegang teguh konsep kejujuran itu meskipun dia dalam keadaan yang susah.

Pada suatu hari tepatnya tanggal 4 April 2015, saat datang waktu dzuhur, saya dan dosen saya yang sedang dalam perjalanan memutuskan untuk singgah ke sebuah mesjid di daerah Banda Aceh. Selepas shalat, saat saya sedang memakai sepatu, saya melihat ada seorang bapak-bapak hanya mengenakan sebuah sendal, yaitu sebelah kanan saja, berjalan mengelilingi mesjid untuk mencari sendal sebelah kirinya yang hilang, kebetulan Bapak itu dalam kondisi kurang sehat, kakinya agak sedikit ada masalah, sehingga beliau tidak berjalan dengan baik lagi. Karena iba, saya mencoba membantu untuk mencari sendal tersebut, sekalian saya mau melihat, apakah bapak tersebut mau menukarkan sendalnya yang hilang itu dengan sendal lainnya yang masih lengkap, karena jika tidak pasti beliau pulang hanya dengan satu sendal, dan kondisi cuaca sangat terik di hari itu. Pastinya kaki beliau akan terasa terbakar.

sumber gambar
Ternyata Bapak tersebut tetap berusaha mencari walaupun peluang ketemu sudah sangat kecil karena saya sudah mengecek ke sekeliling mesjid, memang saya tidak melihat sendal kiri milik Bapak itu. Sambil saya mencari (saya membantu mencari tanpa sepengetahuan Bapak tersebut), saya melihat ada beberapa sandal bekas disamping lokasi mesjid, kebetulan disamping mesjid ada rumah yang sudah roboh meninggalkan puing-puingnya. secara kebetulan, saat saya melihat ke arah puing-puing tersebut, saya melihat ada beberapa sendal swallow yang sudah usang dan tertutupi oleh reruntuhan. Saya ambil kayu untuk mencoba menjangkau sendal tersebut. Akhirnya saya pilih satu sendal yang sebelah kiri dan tidak putus. 

Sebelum saya menyerahkan sandal tersebut kepada Bapak itu, terlebih dahulu saya datangi Bapak itu dan bertanya, "Sandalnya hilang sebelah ya Pak?". Dia menjawab,"Iya". Sebelum saya memberikan sendal yang ada di tangan kanan saya, saya terlebih dahulu, menyembunyikannya di belakang badan. Dan bertanya kepada bapak itu sambil menunjuk sendal orang lain,"Bukan ini sendal Bapak?(Sambil menunjuk sendal swallow orang yang masih lengkap)". Dia menjawab,"Bukan dek, bukan punya saya(sambil terus mencari)." Luar biasa, di tengah kesusahan di hari yang begitu terik, dia tetap pada kejujurannya, bahwa dia tidak mau mengambil yang bukan miliknya. Mungkin apabila saya tidak menemukan sendal pengganti untuknya dia akan tetap pulang dengan sebelah sendal yang ada di kaki kanannya. Akhirnya saya menyerahkan sendal yang saya ambil dari puing-puing tersebut kepada Bapak itu. Saya bilang, Pak ini tadi saya dapat sendal di puing-puing rumah sebelah mesjid. Walaupun beda ukuran, mungkin bisa Bapak pakai sampai rumah, jadi gak panas kaki Bapak." Beliau menjawab,"Terima kasih dek"(dengan wajah tersenyum). Kemudian saya kembali ke tempat saya duduk tadi untuk menunggu dosen saya yang masih shalat rawatib. 

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sifat dan sikap Bapak tadi itu. Di tengah kesusahan dia tetap berusaha sekuat tenaga mencari apa yang menjadi miliknya, meskipun sudah beberapa kali keliling mesjid. Sikap pantang menyerah tersebut yang saat ini kurang kita miliki, saya pun begitu, baru sekali gagal, sudah menyerah tidak mau mencoba lagi. Selain itu sikap jujur, yaitu tidak mau mengambil yang bukan miliknya walaupun berada dalam kekusahan patut kita teladani. Saat ini, karena merasa kesulitan ekonomi, hal yang bukan hak kita pun kita ambil. Prinsip-prinsip kejujuran sekarang terasa sangat mahal. Semoga cerita ini dapat menginspirasi kita semua agar dapat menjadi insan yang lebih baik kedepannya.

@hendraahong

Kamis, 02 April 2015

Kenapa Hidup Kita Susah?

Sumber: Akun Instagram @ayoberubah
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat per­umpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nur: 35)

Bingung kerja apa? Bagaimana memenuhi kebutuhan apabila tidak bekerja? Sudah bekerja tetapi masih belum bisa memenuhi kebutuhan? Hal tersebut bertolak belakang seperti zaman kakek nenek kita dahulu. Mereka hanya berdagang dengan membawa sepuluh butir kelapa ke pasar, dan jarak antara rumah dan pasar berkilo-kilo meter. Tetapi bisa mencukupi istri dan anaknya yang biasanya bisa melebihi 10 orang. Bahkan di hari tuanya dia bisa mencukupkan anak-anaknya dengan membagi rumah kepada anak-anaknya.

Tapi hidup pasangan muda saat ini, walaupun memiliki gaji yang besar, rumah tidak beli hanya menempati, punya anak hanya dua orang tetapi masih juga tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Masih saja merasa kurang akan yang didapat saat ini. Hal itu bisa jadi karena hidup kita tidak diberi cahaya oleh Allah Swt. Banyak yang berusaha sampai berhutang dan memiliki banyak masalah, bisa jadi Allah tidak memberikan cahaya pada pekerjaan kita. Banyak orang yang karirnya luar biasa, di nomor satukan di tempat bekerjanya tetapi hidupnya begitu-begitu saja sedari dulu. Padahal wujud akhirat jelmaannya juga ada di dunia.

“(Cahaya itu) di rumah-rumah yang disana telah di perintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang.” (QS. An-Nur: 36)

Apakah kita sudah termasuk orang yang bertasbih kepada-Nya? Padahal tasbih menimbulkan cahaya-Nya. Dalam rumah tangga tidak bercahaya karena tidak disebutkan nama Allah di dalamnya. Suami istri tidak ada shalat, sedekah, mengaji, dan lain sebagainya. Padahal, rumah yang tidak di bacakan ayat Al-Qur'an di dalamnya bagaikan kuburan yang gelap.

"Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (Hari Kiamat).” (QS. An-Nur: 37)

Setiap hari kita sering berlawanan dengan ayat ini, kita lalai. Kita lalai dengan jual beli kita, aktivitas kita, pekerjaan kita, kuliah kita, anak kita, istri kita, suami kita, orang tua kita telah melalaikan kita semua. Oleh karena itu, apabila kita bertanya mengapa hidup kita tidak ada cahaya, terasa susah. Susah mencari jodoh,  punya hutang banyak, bisa jadi itu karena Allah mencabut cahaya-Nya dari kita karena kita tidak bergegas dan lalai akan janji kita dengan Allah. Kita masih belum bisa mengikuti golongan yang disebutkan ayat di atas tersebut. Kita sudah tidak punya rasa takut lagi dalam berbuat dosa padahal nanti akan datang hari pembalasan.

Marilah sama-sama kita tingkatkan ibadah kita kepada Allah Swt. pelan-pelan kita tingkatkan, karena lebih baik ibadah secara kontiniu, walaupun belum bisa melaksanakan sunahnya, kita awali dengan yang wajib dulu. Jangan sampai karena sudah terlalu bertabur dosa Allah mencabut iman ari diri kita. Marilah kita berubah menjadi lebih baik. Karena Allah Maha Pengampun dosa-dosa kita. (Inspired: Ust. Yusuf Mansur)

@hendraahong

Membaca Panic Buying BBM dari Ilmu Perilaku Konsumen

Oleh: Hendra Halim, M.E. (Sekretaris Pusat Riset Kita Kreatif Universitas Syiah Kuala | Dosen FEB Universitas Syiah Kuala) Dalam beberapa ha...