Kamis, 15 Desember 2022

Manfaat Sertifikasi Digital Marketing bagi UMKM



Sertifikasi digital marketing merupakan suatu bentuk validasi atas pengetahuan dan keterampilan dalam bidang digital marketing. Bagi UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), sertifikasi ini dapat memberikan berbagai manfaat yang sangat penting. Pertama, sertifikasi digital marketing dapat meningkatkan kompetensi dan kredibilitas para pegawai atau pemilik UMKM tersebut. Dengan memiliki sertifikasi ini, mereka dapat membuktikan bahwa mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mengelola dan mengembangkan bisnis secara online. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap UMKM tersebut, sehingga dapat meningkatkan penjualan dan keuntungan bisnis.

Kedua, sertifikasi digital marketing dapat membantu UMKM dalam mengikuti perkembangan teknologi dan trend bisnis online. Saat ini, teknologi dan trend bisnis online berkembang sangat cepat dan sangat penting bagi UMKM untuk selalu mengikutinya. Sertifikasi digital marketing dapat membantu para pegawai atau pemilik UMKM tersebut untuk terus belajar dan memperoleh pengetahuan terbaru tentang teknologi dan trend bisnis online. Hal ini akan membantu UMKM tersebut untuk lebih mudah bersaing di pasar online.

Ketiga, sertifikasi digital marketing dapat membantu UMKM dalam mengelola dan mengembangkan bisnis secara efektif dan efisien. Dengan memiliki sertifikasi ini, para pegawai atau pemilik UMKM dapat lebih mengerti tentang berbagai strategi dan teknik digital marketing yang dapat digunakan untuk mengelola dan mengembangkan bisnis secara online. Hal ini akan membantu UMKM tersebut untuk lebih mudah menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengelola dan mengembangkan bisnisnya secara online, sehingga dapat meningkatkan penjualan dan keuntungan bisnis.

Keempat, sertifikasi digital marketing dapat membantu UMKM dalam memperluas jaringan dan meningkatkan branding bisnis. Dengan memiliki sertifikasi ini, para pegawai atau pemilik UMKM dapat lebih mudah untuk bergabung dengan komunitas atau klub bisnis online yang terkait dengan bidang digital marketing. Hal ini akan membantu UMKM tersebut untuk memperluas jaringan dan meningkatkan branding bisnisnya, sehingga dapat meningkatkan omset usaha.

Salah satu LPS yang menyediakan pelatihan dan uji kompetensi digital marketing adalah Lembaga Sertifikasi Profesi Teknologi Digital. Pembaca yang berminat dapat mengaksesnya melalui link lspdigital.id atau sertifikasikompetensi.com.

Pentingnya Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) bagi Pengembangan SDM Indonesia

Sumber: https://ui.lspbnsp.id/assets/files/artikel/23181kategori_slide_kedua.jpg
Sumber

Lembaga sertifikasi profesi merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Lembaga sertifikasi profesi bertujuan untuk menjamin bahwa tenaga kerja Indonesia memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam suatu bidang profesi tertentu. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat. Sertifikasi profesi juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia. Dengan mengikuti sertifikasi profesi, para pekerja dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja mereka. Hal ini tentu saja akan sangat bermanfaat bagi perkembangan industri dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Selain itu, lembaga sertifikasi profesi juga bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas di antara para pekerja. Dengan adanya sertifikasi profesi, para pekerja dapat lebih mudah untuk membuktikan kemampuan dan kompetensi mereka kepada pihak-pihak yang berkepentingan, seperti perusahaan, instansi pemerintah, maupun masyarakat. Dengan demikian, para pekerja dapat lebih mudah untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi dan kemampuan mereka. Selain itu, lembaga sertifikasi profesi juga dapat membantu meningkatkan produktivitas tenaga kerja Indonesia. Dengan memiliki sertifikat keahlian yang menjamin kompetensi, individu akan lebih percaya diri dan dapat bekerja dengan lebih optimal. Hal ini tentunya akan berdampak positif pada kinerja perusahaan dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.

Tidak hanya bagi para pekerja, lembaga sertifikasi profesi juga bermanfaat bagi perusahaan dan instansi pemerintah. Dengan adanya sertifikasi profesi, perusahaan dapat lebih mudah untuk mencari dan mempekerjakan tenaga kerja yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Hal ini tentu saja akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas produk dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Selain itu, lembaga sertifikasi profesi juga dapat membantu instansi pemerintah dalam mengelola dan mengembangkan sumber daya manusia Indonesia secara lebih efektif. Dengan adanya sertifikasi profesi, instansi pemerintah dapat mengetahui kompetensi dan kemampuan para pekerja secara lebih jelas, sehingga dapat mengembangkan program-program pengembangan karir yang sesuai dengan kebutuhan para pekerja dan perusahaan.


Sertifikasi Digital Marketing Harus Bebas dari Plagiarisme

Sertifikasi digital marketing adalah suatu bentuk sertifikasi yang diberikan kepada individu atau perusahaan yang telah memenuhi syarat dan telah lulus tes yang ditentukan oleh lembaga yang mengeluarkan sertifikat tersebut. Sertifikasi ini bertujuan untuk memberikan bukti bahwa seseorang atau perusahaan tersebut memiliki kemampuan dan kompetensi dalam bidang digital marketing. Digital marketing sendiri adalah salah satu cabang dari pemasaran yang menggunakan teknologi digital, seperti internet, media sosial, dan aplikasi untuk menjangkau dan berkomunikasi dengan audiens atau calon pelanggan. Dengan menggunakan teknologi digital, digital marketing memungkinkan perusahaan atau organisasi untuk mengirimkan pesan promosi atau informasi produk atau jasa secara cepat dan efektif kepada audiens yang tepat.

Sertifikasi digital marketing sangat penting bagi individu atau perusahaan yang ingin terlibat dalam bidang digital marketing, karena sertifikasi ini memberikan bukti bahwa mereka memiliki kemampuan dan kompetensi dalam bidang tersebut. Sertifikat ini juga bisa meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan audiens atau pelanggan terhadap perusahaan atau organisasi tersebut. Sertifikasi digital marketing dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). LSP adalah lembaga pelaksana kegiatan kompetensi kerja yang mendapatkan lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Salah satu LSP yang menyelenggarakan sertifikasi digital marketing adalah LSP Teknologi Digital yang dapat diakses melalui lspdigital.id dan sertifikasikompetensi.com.

Sertifikasi Digital Marketing

Seperti halnya sertifikasi lainnya, sertifikasi digital marketing juga memiliki aturan tersendiri mengenai plagiarisme. Plagiarisme adalah penyalinan atau penggunaan ide atau karya orang lain tanpa mencantumkan sumbernya atau dengan mengklaim sebagai karya sendiri. Dalam sertifikasi digital marketing, plagiarisme dilarang dan dianggap sebagai pelanggaran yang serius.

Untuk menghindari terjadinya plagiarisme, sertifikasi digital marketing menetapkan batas maksimal tingkat plagiarisme yang diizinkan, yaitu 20%. Ini berarti bahwa dalam mengerjakan soal-soal tes sertifikasi digital marketing, seseorang atau perusahaan tidak boleh menyalin atau menggunakan ide atau karya orang lain sebanyak lebih dari 20% dari jawabannya. Jika seseorang atau perusahaan terbukti melakukan plagiarisme melebihi batas maksimal yang ditetapkan, maka mereka dapat dikenakan sanksi, mulai dari peringatan hingga pencabutan sertifikat yang telah diterima. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan menghormati hak cipta orang lain, serta menghindari melakukan plagiarisme dalam mengerjakan soal-soal tes sertifikasi digital marketing.

Senin, 17 Februari 2020

Mengapa harus Wisatawan Malaysia?

Sumber: https://bisniswisata.co.id/wp-content/uploads/2018/01/aceh.jpg

Wisatawan mancanegara dan nusantara merupakan salah satu indikator pengukuran keberhasilan pembangunan kepariwisataan sebuah negara atau daerah. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Provinsi Aceh menunjukkan pertumbuhan yang positif selama 5 tahun terakhir. Tahun 2018, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Aceh mencapai 106 ribu wisatawan, naik 40,3% dari tahun sebelumnya, di mana tercatat ada lebih dari 75 ribu adalah wisman (BPS, 2019).
Jika ditelusuri lebih lanjut berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Provinsi Aceh didominasi oleh wisatawan asal Malaysia dengan pangsa pasar sekitar 80% dalam 5 tahun terakhir. Malaysia seharusnya dijadikan target pasar utama untuk wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Aceh berdasarkan data tersebut. Selain itu, dari hasil kajian segmentasi pasar Disbudpar tahun 2019, pengeluaran rata-rata wisatawan Malaysia selama di Aceh rata-rata sebesar 3,5-9 juta rupiah. Dana ini lebih besar dari jumlah yang dikeluarkan oleh wisatawan domestik yaitu rata-rata di bawah 3,5 juta rupiah dalam sekali kunjungan.
Lalu, apa yang harus dilakukan oleh Pemerintah Aceh dan pelaku industri pariwisata di Aceh untuk menarik lebih banyak wisatawan asal Malaysia berunjung ke Aceh?
Untuk menyusun strategi dalam peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara khususnya Malaysia ke Aceh, penulis telah melakukan wawancara dengan beberapa akademisi dan praktisi industri pariwisata di Aceh. Penulis merangkum hasil wawancara tersebut serta merekomendasikan beberapa hal, diantaranya:
1.   Strategi Eksternal:
a.    Promosi agresif ke negara pasar utama (Malaysia) dengan memanfaatkan berbagai media promosi yang ada (online dan offline). Pemerintah dan pelaku industri wisata menggunakan media online seperti website, Instagram ads, facebook ads, dan iklan online lainnya untuk memperkenalkan destinasi wisata halal Aceh khusus menargetkan area Malaysia;
b.   Memanfaatkan tema-tema wisata minat khusus dan wisata tematik seperti wisata sejarah Aceh-Malaysia, wisata tsunami, belanja tradisional, desa wisata, wisata bulan maulid, wisata ramadhan di Serambi Mekah, dll;
c.    Memanfaatkan Kuala Lumpur sebagai port of entry wisatawan yang akan ke Aceh (advertising, brosur, baliho, outdoor ad lainnya) di Bandara KLIA 1 dan 2;
2.   Strategi Internal:
a.    Peningkatan pelayanan di destinasi wisata (lahan parkir memadai, tersedia musalla, toilet yang bersih dan terpisah antara pria dan wanita);
b.   Peningkatan jumlah sertifikasi halal pada restoran, café, salon, spa, dan berbagai fasilitas wisata lainnya serta transparansi dan standarisasi harga pada konsumen terutama wisatawan mancanegara.
Demikian beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan terutama wisatawan asal Malaysia. Jika pembaca mempunyai pendapat lainnya, silahkan menuliskannya di kolom komentar. Semoga strategi dari penulis, narasumber yang telah kami wawancarai, serta saran dari pembaca nantinya dapat menjadi masukan dan dilaksanakan oleh seluruh stakeholder wisata halal Aceh sehingga terjadinya peningkatan pemasukan kepada industri yang memiliki keterikatan dengan industri wisata.

Selasa, 04 Februari 2020

Mengapa Aceh Bukan “Peringkat Pertama” Destinasi Wisata Halal di Indonesia?

Sumber Gambar: https://images.app.goo.gl/YutFUKk58nkADVG8A

Provinsi Aceh selama dua tahun berturut-turut, yaitu tahun 2018 dan 2019 menempati posisi kedua Destinasi Wisata Halal Indonesia versi Crescentrating-Mastercard Indonesia Muslim Travel Index (IMTI). Peringkat pertama selama dua tahun terakhir diraih oleh Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Provinsi Aceh yang merupakan tempat agama Islam pertama kali masuk ke Indonesia dan provinsi satu-satunya di Indonesia yang menerapkan hukum syariah dan diberikan status otonomi khusus. Namun, mengapa Provinsi Aceh selalu berada di posisi kedua selama dua tahun terakhir ini? bagaimana kriteria penilaian Crescentrating-Mastercard Indonesia Muslim Travel Index (IMTI)?

Alat pengukuran yang digunakan dalam IMTI diadaptasi dari Model ACES Global Muslim Travel Index (GMTI) yang meliputi: 1. Access, 2. Communication, 3. Environment, dan 4. Services. Komponen akses memiliki beberapa indikator, yaitu: akses udara, akses kereta api, akses laut dan infrastruktur jalan. Indikator ini mengukur kemudahan aksesibilitas suatu destinasi melalui beberapa moda transportasi. Komponen komunikasi memiliki beberapa indikator, yaitu: panduan wisatawan muslim, pendidikan pemangku kepentingan, penjangkauan pasar, kemampuan bahasa pemandu wisata, dan pemasaran digital. Indikator ini mengukur tingkat kesadaran dan tingkat penjangkauan pasar terhadap kebutuhan wisatawan muslim. 

Komponen lingkungan memiliki beberapa indikator, diantaranya: tempat kedatangan wisatawan domestik, tempat kedatangan wisatawan internasional, ketersediaan Wi-Fi di bandara, dan komitmen terhadap wisata halal. Indikator ini mengukur kenyamanan lingkungan destinasi wisata. Komponen layanan memiliki beberapa indikator, diantaranya: restoran halal, masjid, bandara, hotel, dan objek wisata. Indikator ini mengukur layanan kebutuhan berbasis agama yang disediakan oleh destinasi. Layanan ini sangat penting untuk memungkinkan para wisatawan muslim untuk melakukan perjalanan sambil tetap menjalankan ibadah.

Lombok, Aceh, dan Jakarta adalah tiga daerah teratas pada IMTI tahun 2018 dengan skor masing-masing 58, 57 dan 56. Nilai rata-rata pada tahun 2018 adalah 50. Dari 10 provinsi, hanya 6 yang mencetak nilai di atas rata-rata. Provinsi tiga besar seharusnya mendapat skor setidaknya 80, tetapi peringkat 1 yaitu Lombok, hanya skor 58. Hal ini menyiratkan semua daerah harus fokus pada peningkatan komunikasi dan layanan untuk meningkatkan skor yang didapat.

Pada IMTI tahun 2019, NTB mempertahankan posisinya sebagai peringkat pertama dengan skor 70. Provinsi ini telah membuktikan dirinya sebagai salah satu tujuan paling lengkap bagi para wisatawan muslim di Indonesia dalam hal berbagai kriteria yang dianalisis. Dengan demikian dikategorikan sebagai destinasi wisata halal unggulan di Indonesia. Provinsi Aceh mempertahankan posisinya di tempat kedua dengan skor 66, sementara Provinsi Riau & Kepulauan Riau berhasil menyusul Jakarta dan berada di tempat ketiga dengan skor 63.

Apa yang harus dilakukan agar Provinsi Aceh dapat menjadi peringkat pertama destinasi wisata halal di Indonesia? Atau minimal dapat mempertahankan posisinya saat ini? Berikut beberapa hal yang harus dilakukan Pemerintah Aceh dan pelaku wisata halal sesuai standar IMTI dan GMTI:
1. Berupaya meningkatkan aksesibilitas destinasi wisatanya melalui konektivitas udaranya dengan meningkatkan lebih banyak penerbangan internasional langsung dan meningkatkan infrastruktur jalannya agar memiliki kapasitas untuk mengakomodasi wisatawan.
2. Untuk memiliki komunikasi yang kuat, provinsi harus terlibat dalam lebih banyak kegiatan penjangkauan pasar di pameran B2B dan B2C, menjalankan kampanye online dan offline dalam berbagai media bahasa, panduan wisatawan muslim dalam bahasa yang sama dengan wisatawan, dan melengkapi staf perhotelan dengan keahlian bahasa.
3. Untuk memiliki lingkungan yang ramah wisatawan, pemda dan pelaku industri wisata harus meningkatkan konektivitas Wi-Fi di area publik untuk wisatawan muslim seperti bandara, mal, dan hotel. Selain itu, perlu ada inovasi untuk layanan terkait wisata halal untuk berkembang.
4. Layanan ramah wisatawan muslim adalah kunci untuk menarik wisatawan muslim. Layanan-layanan ini termasuk perusahaan-perusahaan bersertifikat halal seperti restoran dan hotel yang sesuai syariah, ruang dan fasilitas sholat yang ditingkatkan, produk dan pengalaman pariwisata inovatif seperti pengalaman religius atau pengalaman kuliner halal, fasilitas terpisah gender seperti spa dan gimnasium.

Rabu, 29 Januari 2020

Apakah Wabah Novel Coronavirus (nCoV) Wuhan akan Mengancam Industri Pariwisata Indonesia?


Wabah Virus Corona terus menyebar ke sejumlah negara sejak ditemukan pada akhir 2019. Virus itu setidaknya sudah menjalar ke Taiwan, Nepal, Jepang, Korea Selatan, Kamboja, Sri Lanka, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, Australia, Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis sejak pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.
China mengumumkan larangan grup travel dari China ke luar negeri sebagai bagian dari pencegahan penyebaran novel coronavirus (nCoV) Wuhan. Selain itu, berbagai negara pun sudah mengeluarkan peringatan perjalanan terhadap warga negara mereka yang perlu bepergian ke China. Bahkan, beberapa diantaranya, seperti Prancis dan AS mulai menegosiasikan kepulangan para warga mereka dari Negeri Tirai Bambu.
China merupakan negara yang memberikan kontribusi besar terhadap sektor pariwisata di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Negeri Tirai Bambu selama ini termasuk tiga besar penyumbang terbesar jumlah wisatawan ke berbagai destinasi wisata Indonesia dengan 2.093.171 wisatawan.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif atau Kemenparekraf menargetkan jumlah wisatawan mancanegara pada tahun 2020 sebanyak 17 juta kunjungan. Sementara kunjungan wisman sepanjang 2019 diperkirakan hanya mencapai 16,4 juta kunjungan. Apakah target ini dapat dipenuhi dengan adanya wabah virus corona di awal 2020 ini?
Singapura dan Korea Selatan pernah dilanda wabah penyakit yang menghantam sektor pariwisatanya. Di awal tahun 2003 Singapura dilanda SARS dan tahun 2015 Korea selatan terjangkit wabah MERS. Kerugian besar yang dialami kedua negara tidak hanya dirasakan di sektor kesehatan, namun juga sektor pariwisata, sektor perekonomian, dan permasalahan psikologis publik. Hal ini dikarenakan industri pariwisata merupakan kumpulan dari berbagai sektor yang saling berkaitan dan mendukung, diantaranya industri transportasi dan komunikasi, indsutri perhotelan dan akomodasi, industri kerajinan dan industri produk konsumen, industri biro jasa perjalanan, rumah makan, restoran dan lain-lain. Sehingga jika terjadi penurunan pada sektor pariwisata maka akan mempengaruhi semua sektor tersebut.
Selain melakukan pembatasan bagi wisatawan China yang berkunjung ke Tanah Air untuk mencegah penyebaran virus ini, pemerintah dan pelaku industri pariwisata harus mengoptimalkan promosi wisata domestik ke negara-negara lain. Harapannya, agar kunjungan wisatawan dari negara lain bisa mengompensasi penyusutan potensi wisatawan dari China.
Menargetkan wisatawan muslim merupakan salah satu strategi yang tepat. Pada tahun 2018, diperkirakan ada 140 juta wisatawan muslim internasional. Diproyeksikan mencapai 230 juta wisatawan pada tahun 2026. Laporan Mastercard-CrescentRating Digital Muslim Travel tahun 2018 memperkirakan bahwa wisatawan muslim akan menghabiskan USD $ 180 miliar pada tahun 2026 untuk biaya traveling. Berdasarkan data Global Muslim Travel Index 2019, ada tiga puluh negara dengan potensi wisatawan muslim terbesar yang diidentifikasi berdasarkan jumlah wisatawan muslim saat ini, pasar potensial populasi muslim di negara tersebut, serta PDB per kapita negara tersebut. Dua puluh dari mereka berasal dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan sepuluh dari negara-negara non-OKI, yaitu Negara OKI (Algeria, Azerbaijan, Banglades, Mesir, Iran, Yordania, Kazakhstan, Kuwait, Malaysia, Moroko, Nigeria, Oman, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Tunisia, Turki, Uni Emirat Arab, dan Uzbekistan) dan negara Non-OKI (China, Francis, Jerman, India, Italia, Rusia, Singapura, Belanda, Amerika Sekitar, dan Inggris Raya).
Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dan ditingkatkan oleh pemerintah dan pelaku industri pariwisata khususnya wisata halal dalam mengembangkan potensi wisata halal Indonesia:
1. Akses (Akses transportasi udara, kereta, laut, dan infrastruktur jalan);
2. Komunikasi (Buku petunjuk wisatawan muslim, edukasi ke stakeholder, jangkauan pasar, tour guide, dan pemasaran digital);
3. Lingkungan (Kedatangan domestik di bandara, kedatangan internasional di bandara, fasilitas wifi di bandara, komitmen terhadap wisata halal); dan
4. Layanan (Restoran halal, masjid, bandara, hotel, atraksi).

Rabu, 28 Maret 2018

Hedonisme dan Konsumerisme Membuatku 'Menjual' Segalanya


Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, perkembangan manusia dan kehidupannya semakin pesat, kegiatan yang dilakukannya pun semakin beragam. Kehidupan masyarakat yang pada awalnya hanya melakukan kegiatan konsumsi sebagai alat pemenuhan kebutuhannya, pada akhirnya perkembangan zaman menjadikan kegiatan konsumsi sebagai salah satu kegiatan yang melibatkan budaya, gaya hidup, dan unsur sosial sebagai pendorong consumer behavior.

Hasil gambar untuk hedonisme dan konsumerisme merusak
sumber
Gadget dalam bahasa Indonesia disebut gawai adalah suatu piranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis spesifik yang berguna yang umumnya diberikan terhadap sesuatu yang baru. Gawai dianggap dirancang secara berbeda dan lebih canggih dibandingkan teknologi normal yang ada pada saat penciptaannya. Pembeda gadget dengan teknologi yang lainnya adalah unsur kebaruan dan gawai berukuran lebih kecil. Sebagai contoh:

  1. Komputer merupakan alat elektronik yang memiliki pembaruan berbentuk gawai, yaitu laptop/notebook/netbook.
  2. Telepon rumah merupakan alat elektronik yang memiliki pembaruan berbentuk gawai, yaitu handphone. (Sumber: www.wikipedia.org)

Saat ini gawai canggih tidak bisa dipisahkan dari gaya hidup anak muda. Keputusan mereka membeli bukan hanya dari fitur yang ditawarkan tetapi juga nilai prestise yang didapat bagi para pemakainya. Terkadang harga tinggi tidak jadi penghalang bagi seseorang untuk memiliki gawai tersebut, didukung oleh keuangan orang tua yang mapan, maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit bagi mereka. Kebutuhan gawai pada anak muda saat ini sudah menjadi kebutuhan sehari-hari yang mendorong anak muda menjadi lebih konsumtif dan mempengaruhi gaya hidup mereka terutama dikalangan mahasiswa. Perusahaan pengembang produk teknologi harus jeli dalam melihat peluang ini dan harus mampu memuaskan keinginan konsumen di segmen ini.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan saat ini hedonisme dan konsumerisme merambah dan memengaruhi gaya hidup sebagian kalangan mahasiswa. "Inilah yang membuat sebagian mahasiswa di negeri ini kurang progresif, tidak kritis, bahkan ada yang tidak memiliki orientasi jelas, tidak memiliki kepedulian sosial, dan lain sebagainya," kata Khofifah di Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (14/4/2017), seperti dikutip Antara. Khofifah menyampaikan pemikirannya itu saat memberikan kuliah umum bertema "Urgensi Peran Perguruan Tinggi Islam dalam Menanggulangi Masalah-Masalah Sosial" di Institut Agama Islam Negeri (IAIN).

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Berfoya-foya serta menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang yang branded dan sedang nge-trend saat ini. Hal ini terjadi karena keinginan akan hidup berwemah-mewahan dan tidak mau di sebut ketinggalan zaman. Sedangkan konsumerisme adalah sebuah paham yang menjadikan seseorang mengkonsumsi barang secara berlebihan. Dan biasa nya perilaku ini tidak disadari oleh setiap orang. Hal ini terjadi karena adanya beberapa faktor seperti membeli barang karena sekedar keinginan, bukan kebutuhan. Membeli produk untuk terlihat keren dan mengikuti zaman bahkan hanya karena kemasannya menarik. Perilaku seperti ini mengarah pada gaya hidup yang hanya mementingkan penampilan yang berlebihan.

Dalam Islam, paham hedonisme dan konsumerisme dianggap merusak akhlak pribadi seorang Muslim. Karena paham tersebut mengajarkan pada israf (berlebih-lebihan) dan tabzir (boros). Dua perkara yang dibenci oleh Allah Swt. 

كُلُواْ مِن ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُواْ حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makanlah dari buahnya bila dia berbuah dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya) dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-An’am: 141).

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang belebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Mari kita berlindung kepada Allah Swt. agar terhindar dari budaya hedonisme dan konsumerisme. Wallahu a’lam bissawab.


Penulis:
Hendra Halim
Mahasiswa Pascasarjana Prodi Ekonomi Syariah
UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Membaca Panic Buying BBM dari Ilmu Perilaku Konsumen

Oleh: Hendra Halim, M.E. (Sekretaris Pusat Riset Kita Kreatif Universitas Syiah Kuala | Dosen FEB Universitas Syiah Kuala) Dalam beberapa ha...