Minggu, 08 Maret 2015

Pantaskan Diri untuk Allah, Bukan untuk Jodoh

Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrYpiAVdvlLBn7jWMpyDhvhHXXVvtUm27vm-fjtJNmFOtQBbeDkdasZSMMx9fsuJN91bQax8doOvpK7RRygmkCYeiQYlo1OIjfB6PObFFJlYRRu4SsV_NmlWx6YrIDnrctFyYgoYn8K78/s1600/292763_397766016961102_1772393256_n.jpg

Kita sering mendengar istilah memantaskan diri, terutama dalam konteks perjodohan. Tapi sudahkan kita tahu apa yang ada di balik kata memantaskan diri? Memantaskan diri berarti kita membuat diri kita pantas mendapat jodoh. Ketika kita memiliki target jodoh tertentu, yang mana jika kita memiliki kriteria jodoh yang kita inginkan, maka kita harus memantaskan diri agar sesuai dengan kriteria kita.

Padahal jodoh tidak selamanya memiliki rumus itu, tidak selamanya sesuai dengan rumus yang kita terapkan dalam kehidupan manusia. Banyak yang memiliki keyakinan ketika kita ingin memiliki jodoh dengan spesifikasi tertentu, maka kita harus memantaskan diri untuk spesifikasi yang kita inginkan dari jodoh itu.
  

Ada yang menginginkan jodoh dengan kriteria tinggi, maka dia harus menaikkan spesifikasinya, agar nanti ketika sudah pantas, dia akan mendapatkan jodoh yang dia inginkan dengan spesifikasi yang cocok. Padahal jodoh tidak selamanya seperti itu. Tidak berdasarkan kepantasan dan kepatutan tertentu. Jodoh adalah pilihan Allah.

Akhirnya ketika dia tidak menemukan jodoh dengan spesifikasinya, maka dia tidak mau menikah. Ketika tidak ketemu jodoh yang sesuai spesifikasi, maka dia bisa jadi menggerutu dan menyalahkan Allah, karena merasa dirinya sudah sesuai spesifikasi, maka harus mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya. Dia menganggap ketika sudah memenuhi spesifikasi, maka Allah wajib memberikan apa yang menjadi impiannya. Dia menggugat Allah.

Hal tersebut yang membuat memantaskan diri bukan untuk Allah itu salah, karena semua yang ada di dunia ini merupakan ciptaan-Nya. hidup, mati, jodoh, rezeki semua sudah ditentukan Allah dalam qadha' Nya. Untuk itu marilah kita memantaskan diri (mengubah diri menjadi lebih baik) untuk Allah agar hidup kita senantiasa ridha atas qadha' Nya. 

Rasulullah bersabda,"Siapa mendekat kepada KU (Allah) sejengkal, maka aku akan mendekatinya satu hasta, Siapa yang mendekat kepada KU (Allah) satu hasta, maka aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan siapa yang mendekat kepada KU (Allah) dengan berjalan kaki, maka aku akan mendekatinya dengan berlari-lari kecil".(HR.Muslim)

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS an-Nuur [24]: 26)

Salah satu ujian iman tertinggi adalah ketika diri tak menyadari posisi tertinggi hati, tak lagi Allah yang menghuni.Terkelabui oleh cinta yang katanya sejati, padahal hakikat kehadirannya hanya untuk menguji. Bersibuk memantaskan diri karena jodoh, bukan lagi karena Allah. Terbakar semangat menikah, tanpa menyadari niat berbelok, tak lagi untuk ibadah. Mulai gelisah menapaki pencarian, mengabaikan penguatan ketaatan dalam kesendirian.

Padahal kita ketahui, episode ‘sendiri’ itu Allah berikan sebagai sebuah kesempatan untuk mengeksplorasi kehidupan. Episode ‘sendiri’ juga merupakan kesempatan untuk memupuk ketaatan, sebagai bekal persiapan pulang. Ia bukanlah sebuah kutukan, sehingga dianggap pantas sebagai cibiran. Tenang saja semua sudah diatur. Diatur dengan sebaik-baiknya, dengan setepat-tepatnya.

Tak perlu gelisah, khawatir jadi salah arah. Tak perlu buru-buru, khawatir jalan tempuhnya keliru. Jangan terbawa arus, meski di luar sana banyak sekali ‘kompor’ yang nyaris membuat hangus. Santailah, lagipula mereka di luar sana belum tentu ikut bertanggungjawab apabila diri salah niat. Kuatkan hati kita, sambil berbenah diri.

Tapi hati-hati. Jangan bersibuk memantaskan diri karena jodoh, bukan lagi karena Allah. Sebab jika tujuannya demikian, sesungguhnya kita telah membatasi karunia Allah tanpa sadar. Jika Allah ridha, karunia yang diberikan-Nya bisa jauh lebih luas dari itu. Berbenahlah dengan ikhlas, demi menggapai kemuliaan dan kehidupan terbaik, dunia serta akhirat. Ingatlah, kita akan diuji oleh sesuatu yang benar-benar kita cintai. Bisa jadi sebab Allah cemburu, hamba yang pada mulanya begitu mencintai-Nya, sedang lupa dan lalai tanpa sadar.

Maka doaku, doamu, dan doa siapapun yang setuju. Berharap diri tak keliru menyandarkan harapan, pada yang tak seharusnya. Berharap hati tak dilabuhkan, pada tempat yang tak semestinya. Berharap Allah menggenggam segala rasa, yang tak perlu tercurah bila belum saatnya. Andai pun kelak dipertemukan, berharap kecintaan kepada pasangan hidup, tak lebih tinggi dari kecintaan kepada-Nya. Sebab jika Allah tidak ridha, tentu tak sulit bagi-Nya mengambil kembali, apapun yang kita rasa sudah dimiliki. Maka, undang keridhaan-Nya, dengan tetap menempatkan Allah di posisi tertinggi hati. Jangan keliru atas hakikat memantaskan diri.


@hendraahong

Sabtu, 07 Maret 2015

Mari Monolong Sesama...! (Part II)




Dalam sebuah hadits shahih disebutakan bahwa Rasulullah pernah bersabda, "Barangsiapa memiliki kelebihan bekal, maka hendaknya ia datang dengan bekal itu kepada yang tidak memilikinya. Dan barang siapa memiliki kelebihan kendaraan, maka hendaklah dia datang kepada orang yang tidak memiliki kendaraan."

Ibnul Mubarak pernah memiliki tetangga seorang Yahudi. Namum, ia selalu lebih dahulu memberi makan tetangganya itu sebelum anak-anaknya sendiri. Bahkan, ia selalu memberi pakaian padanya sebelum memberi pakaian anak-anaknya. Ketika orang-orang menawar rumah si Yahudi itu, "Jual saja tempat tinggalmu itu kepada kami!"

Yahudi itu berkata, "Saya akan jual rumahku ini dengan dua ribu dinar. Seribu dinar untuk harga rumahku dan seribu lagi karena aku bertetangga dengan Ibnul Mubarak."

Mendengar jawaban itu, Ibnul Mubarak dalam doanya selalu memohon demikian, "Ya Allah, tunjukilah ia ke dalam Islam." Dan beberapa saat kemudian, si Yahudi pun, dengan izin Allah, akhirnya masuk Islam.




Saat hendak berangkat haji, Ibnul Mubarak bertemu satu rombongan yang bermaksud sama. Dalam rombongan itu, ia melihat seorang wanita yang mengambil bangkai burung gagak dari sebuah tong sampah. Kemudian dia menyuruh pembantunya untuk melihat apa yang dilakukan wanita itu. Orang suruhannya itu bertanya kepada si wanita tentang apa yang di lakukannya tadi. Si wanita itu menjawab, "Selama tiga hari kami hanya makan dari sisa-sisa makanan yang di buang ke dalam tong sampah." Karena iba mendengar jawaban itu, Ibnul Mubarak meneteskan air mata. Ia pun memerintahkan agar semua perbekalannya dibagikan kepada rombongan itu. Dan, karena sudah tidak punya bekal lagi maka ia pun pulang. Ia menangguhkan hajinya tahun itu. Dalam tidurnya, ia bermimpi ada orang yang berkata padanya, "Haji yang mabrur, sebuah tindakan yang harus diganjar, dan dosa(mu) telah terampunkan."

"Dan, mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri. Sekalipin mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu." (QS. Al-Hasyr: 9)

Ya Allah, sungguh sebuah perilaku yang sangat indah. Sungguh sebuah karunia yang sangat agung. Sungguh sebuah budi pekerti yang sangat mengharukan.

Orang yang senang melakukan kebajikan, tak akan pernah menyesal meski sangat banyak kebajikan yang telah dikejakannya. Tapi ia justru akan menyesal manakala melakukan kesalahan, meski hanya sebuah kesalahan kecil. Mari kiba saling tolong menolong kepada saudara-saudari kita, karena kita sukses untuk menyukseskan orang lain. (Diadopsi dari Novel La Tahzan)

@hendraahong

Jumat, 06 Maret 2015

Mari menolong sesama...! (Part I)

Sumber Gambar: http://i667.photobucket.com/albums/vv32/auchan/2-1.jpeg


Berbuat baik untuk dan kepada orang lain merupakan jalan lebar menuju kebahagiaan. Dalam sebuah hadist shahih disebutkan:”Di hari Kiamat nanti, yakni saat Allah menghisab hamba-Nya, Dia akan Tanya kepadanya,’Wahai anak Adam, Aku lapar namun kamu tidak memberiku makan’. Hamba itu menjawab,’Bagaimana mungkin aku bisa memberi-Mu makan, sementara Engkau adalah Rabb semesta alam?’ Allah berkata,’Tidaklah engkau tahu hamba-Ku, si Fulan ibn Fulan, sedang kelaparan, namun engkau tidak memberinya makan. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya makan, maka engkau akan dapatkan semua itu di sisi-Ku.’



‘Wahai anak Adam, Aku Kehausan namun engkau tidak memberi-Ku minum.’ Hamba itu menjawab,’ ’Bagaimana mungkin aku bisa memberi-Mu minum, sementara Engkau adalah Rabb semesta alam?’ Allah berkata,’Tidaklah engkau tahu hamba-Ku, si Fulan ibn Fulan, sedang kehausan, namun engkau tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya makan, maka engkau akan dapatkan semua itu di sisi-Ku.’

‘Wahai anak Adam, Aku sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku.’ Hamba itu menjawab,’ ’Bagaimana mungkin aku bisa menjenguk-Mu, sementara Engkau adalah Rabb semesta alam?’ Allah berkata,’Tidaklah engkau tahu bahwa Fulan ibn Fulan sedang sakit, namun engkau tidak menjenguknya. Ketahuilah, seandainya engkau menjenguknya niscaya engkau akan dapatkan Aku di sisinya’.”

Ada satu hal yang menarik di sini. Dalam firman-Nya:”……niscaya engkau akan dapatkan Aku disisinya….,” berbeda dengan dua sebelumnya: “….engkau akan dapatkan (semua) itu di sisi-Ku ….” Mengapa? Sebab Allah selalu bersama orang yang dirundung kesusahan, sebagaimana Dia selalu menyertai orang yang di dera penyakit.

Disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah: “Dalam kesulitan itu ada pahala.” Juga harus engkau mengerti bahwa Allah telah memasukkan seorang wanita pezina dari Bani Israel ke dalam surga hanya karena wanita itu memberikan minum seekor anjing yang kehausan. Maka, bagaimana dengan orang yang member minum dan makan kepada sesame, membantu meringankan beban, dan menghilangkan kesusahan? (diadopsi dari Novel La Tahzan)

Bersambung…

Rabu, 04 Maret 2015

Bosankah Aku?

Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjylTCbrUyXZ3t3Rvkf5r4ok9HMpDhZV1R-HHN65C-nmj4ASDrYxvE9XzdW68FIggvfQL5yFVpE2P6gfU87-FevyjvJi-cTl_dqKEeWJQ1lnn9OfCiMKs5TwtwJtkvT-R0z7ggkCtrEP2s/s1600/Kebosanan.jpg


Coba sebutkan kegiatan yang Anda lakukan sejak pagi hingga malam hari? Bagaimana dengan keesokan harinya? Apakah Anda melakukan hal yang hampir sama lagi? Kadang kita selalu merasa bosan menjalani aktivitas harian yang itu-itu saja. Merasa jenuh dan merasa bahwa hidup kita ‘begitu hampa’ setiap harinya melakukan aktivitas-aktivitas yang sama. Kadang kita juga merasa bahwa hidup kita begitu ‘datar’ dengan aktivitas-aktivitas yang tidak berubah, hal-hal yang sama selalu kita lakukan, dan tidak juga menemukan sesuatu yang dapat mengatasi kebosanan itu. Hal tersebut dapat berujung stress dan permasalahan hidup lainnya.

Untuk itu, kita harus memiliki cara untuk mengatasinya. Setelah memilah-milah dari berbagai sumber, berikut beberapa cara mengatasi kebosanan:

  1. "Lari dari Kenyataan". Maksud dari lari kenyataan di sini bukanlah kita melarikan diri dari tanggung jawab atau kita melarikan diri dari realita yang ada, lari dari kenyataan disini maksudnya kita 'mencuri waktu sejenak dari rutinitas atau dari kegiatan yang harus kita kerjakan. Misalnya kita bekerja sebagai seorang marketing di suatu perusahaan, pekerjaan kita di penuhi dengan target harian yang wajib di penuhi, agak kita tidak bosan, ketika kita bekerja di lapangan, selipkan sedikit waktu untuk duduk sejenak di tempat yang asik, seperti duduk di pinggir pantai atau semacamnya. Hal tersebut dapat membantu kita menghindari kebosanan saat bekerja. 
  2. "Melihat yang Indah-Indah". Alternatif lain saat kita dilanda kebosanan adalah dengan melihat sesuatu yang indah (sedap dipandang). Misalnya, apabila kita seorang lelaki, ketika bosan, cobalah untuk melihat teman kerja Anda yang berparas Cantik, atau pergi makan siang di tempat nongkrong anak-anak zaman sekarang, sehingga suasana dan pemandangan tersebut dapat mengurasi rasa bosan kita, tetapi hal tersebut jangan sampai jatuh kepada zina mata, karena hal tesebut dilarang keras oelhajaran agama.
  3. "Jatuh Cinta". Pengertian jatuh cinta disini bukanlah harus memiliki hubungan dengan lawan jenis, tetapi jatuh cinta disini adalah mengubah mindset kita yaitu dengan menjadikan seseorang yang kita kagumi menjadi penyemangat hidup kita. Tapi kita juga harus berhati-hati karena jatuh cinta yang tak berbalas bisa mengakibatkan galau yang berkepanjangan.
  4. "Menyalurkan Hobi". Untuk mengatasi jenuh, kita harus tetap meluangkan waktu untuk menyalurkan hobi kita. Karena dengan tersalurnya hobi, hati kita menjadi lebih senang dan terhindar dari kebosanan.
  5. "Mendengar Musik dan Menonton Film". Musik dapat menjadikan otak lebih rileks sehingga dapat mengurangi risiko kebosanan, sama halnya dengan menonton film, juga dapat menaikkan mood untuk lebih fresh.
  6. "Liburan dan Rekreasi". Ini merupakan cara paling jitu untuk mengatasi kebosanan dalam hidup. Lakukan rekreasi minimal sebulan sekali untuk mengembalikan semnagat beraktivitas kita.

Itulah beberapa cara menghilangkan kebosanan hidup. Tapi bagaimanapun cara kita untuk menghilangkan rasa bosan dalam hidup kita jangan pernah sesekali menghilangkannya dengan cara yang bisa merusak tubuh serta pikiran kita. Semua hal dalam hidup ini jika di lakukan berulang-ulang kali pasti akan membosankan. Maka pandai-pandailah menempatkan diri untuk berbagai hal positif yang belum pernah kita lakukan agar kita tetap pada kondisi bersemangat dalam mencapai kesuksesan kita. Karena kita sukses untuk menyukseskan.

@hendraahong

Selasa, 03 Maret 2015

Disitu Kadang Saya Merasa Sedih



Kita semua pernah merasa sedih. Baik kesedihan itu dikarenakan kita kehilangan sesuatu atau kita bersedih karena orang lain sedang bersedih pula. Sikap yang tidak baik adalah kita bahagia saat orang lain bersedih, mungkin semua dari kita pernah merasakannya walaupun hanya tersirat di lubuk hati yang paling dalam. Zaman sekarang, segala sesuatu fenomena sering di buat menjadi suatu meme (sebuah gambar yang memuat ekspresi atau menggambarkan suatu kejadian atau foto yang menarik, atau bisa juga suatu gambar yang mewakili perasaan sang pembuat Meme tersebut-Know Your Meme Indonesia). Meme sebagian besar memuat hal-hal yang memotivasi kepada kebaikan, tetapi ada juga yang membuatnya hanya untuk hiburan semata tanpa merugikan satu pihak pun, dan ada pula pihak-pihak yang membuat meme dengan tujuan merugikan pihak-pihak tertentu.



Sikap yang paling baik dan istimewa adalah bahagia di kala orang lain bahagia. Untuk itu, pada postingan saya kali ini, saya akan membahas betapa istimewanya orang yang bahagia saudara/orang lain bahagia. Maka dalam kehidupan kita itu harus berupaya merasa bahagia ketika melihat kebahagiaan orang lain. Itu perlu jiwa yang besar, dan doa yang banyak yang kita panjatkan kepada Allah SWT. Ada kalanya kita tidak suka kalau orang lain memperolah sesuatu, dengan kata lain, kalau saya tidak memperoleh, orang lain tidak boleh memperolah. Terkadang suasananya akan menjadi lebih sulit, kalau orang yang mendapatkan rahmat, berkah, yang mendapatkan anugerah dari Allah SWT itu adalah yang tadinya di bawah kita. Misalnya ketika saya sekolah di SMA saya berteman dengan seseorang di mana teman saya itu tidak punya prestasi yang gemilang, tidak punya kelebihan apapun, dan kita memandangnyapun tidak terlalu hebat. Kemudian pada suatu hari bertemu dengan teman kita itu dengan kejayaannya, berpangkat lebih tinggi, berpendidikan tinggi dengan anak dan isteri yang berprestasi, dengan mobil dan rumah yang mewah. Apakah hati kita bahagia melihat kejadian seperti itu? itulah tantangan. Biasanya kita mengeluh, dan dengan gaya protes mengeluh kepada Allah SWT “atas dasar apa dia diberi seperti itu, kan mestinya saya yang dikasih” perasaan seperti ini hadir dalam setiap diri manusia, yang itu harus diperangi. Maka, dalam setiap hari kita harus belajar bagaimana kita merasa bahagia saat saudara kita merasakan kebahagiaan (Mesjid Al Akbar).

Pada suatu hari ketika nabi bersama-sama dengan para sahabat, Nabi duduk dan mengatakan : sayatlu alaikumul aan rajulun min ahlil jannah (akan muncul di antara kalian ini orang calon penghuni surga) dan para sahabat menunggu, ternyata orang yang sama hingga tiga kali. Sehingga ada sahabat yang ingin menyaksikan sendiri amalan apa yang dilakukan orang ini sehingga dia disebut Rasulullah sebagai penghuni surga. Kemudian dia datang ke rumah orang itu hingga menginap beberapa hari untuk menyelidiki dan memperhatikan semua yang dilakukan orang itu bagaimana ibadahnya, bagaimana amalannya, bagaimana kehidupan pribadinya, bagaimana muamalahnya dia dengan orang lain, itu semua diperhatikan, tetapi semua tidak ada yang istimewa. Malam harinya juga tidak ada yang istimewa, jadi semua biasa-biasa saja. Akhirnya di hari yang ketiga sahabat ini mengatakan : aku heran dengan kamu, kenapa Rasul mengatakan kamu ahli surga, apa amalanmu yang istimewa? orang ini mengatakan : aku tidak punya amalan apapun yang istimewa ya seperti yang engkau saksikan ini. Tetapi sahabat ini masih penasaran sehingga terus menyelidik. Kemudian sambil berlalu seseorang itu nyeletuk, saya tidak tahu, mungkin amalan saya yang dianggap baik itu saya merasa bahagia ketika saudara saya bahagia, saya ridho ketika orang lain bahagia. Kemudian sahabat itu mengatakan : sikap ini yang sulit, itu yang menyebabkan kamu dikatakan calon penghuni surga. Karena memang sulit ketika orang lain bahagia kemudian kita ikut bahagia. (Mesjid Al Akbar)

Selain itu, kita juga harus memiliki kita-kiat untuk mengatasi rasa sedih dengan mengubahnya jadi rasa bahagia, hal itu bisa kita lakukan dengan sedikit kreatifitas, berikut contohnya:



Video Brigadir Dewi Sri Mulyani "Disitu Saya Merasa Sedih" dengan kreatifitas di ubah menjadi sebuah lagu yang menghibur kesedihan.


Mari kita perbaiki diri kita, agar menjadi insan yang sedih melihat saudara kita sedih dan gembira melihat saudara kita gembira dan semoga kita jadi insan yang berguna bagi kemaslahatan umat manusia karena kita sukses untuk menyukseskan.

@hendraahong







Senin, 02 Maret 2015

"God First, Other Second, Me Last": Sudahkah hidupmu berguna bagi orang lain?


Puisi "Kerendahan Hati" (Taufik Ismail)

"Persoalan Tuhan yang pertama, persoalan orang banyak yang kedua, persoalan pribadi yang terakhir", begitulah kira-kita yang ingin disampaikan oleh Induk University Korea dalam tagline  nya.  Pada puisi Karya Taufik Ismail di atas pun di paparkan, kita boleh menjadi apa saja asalkan tetap berguna bagi orang banyak.

Ambil contoh sebuah smartphone. Apa tujuan sebuah smartphone? Kalau kita memiliki smartphone yang cukup besar dan berat mungkin kita bisa menggunakannya sebagai ganjalan pintu. Mungkin juga kita gunakan untuk alat mebela diri saat kita dikejar seekor anjing galak. Tentunya tidak salah apabila kita menggunakan smartphone itu sebagai ganjalan pintu ataupun sebagai alat pembela diri, tapi apakah itu tujuan mengapa smartphone ini diciptakan? Menurut para insinyur yang menciptakan smartphone tersebut, hal tersebut bukanlah tujuan utama sebuah smartphone.

Tujuan utama sebuah smartphone adalah sebagai perangkat komunikasi. Kita bisa membaca email, menelpon keluarga Anda, ber-chatting dengan teman kita dan bahkan sekarang ini kita bisa menjelajahi dunia maya menggunakan smartphone. Dengan menggunakan smartphone seperti yang telah dimaksudkan oleh penciptanya, kita akan mendapatkan manfaat yang optimal. Sama halnya dengan manusia! Penciptaan diri kita penuh dengan tujuan.

Allah berfirman, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. 21 : 107), dari ayat tersebut dapat kita ketahui tujuan kita diutus ke dunia ini adalah bermanfaat bagi semua yang ada di alam semesta.

Hidup ini ibarat buku catatan kosong dan kita lah penulisnya. Buku catatan yang panjang tanpa makna dan guna sudah pasti membosankan bagi para pembaca. Biasanya buku seperti itu nasibnya akan berakhir di tempat sampah, atau setidaknya di tempat pendauran ulang. Adapun buku catatan pendek, mempunyai makna dan nilai guna, walaupun usang, sudah pasti berakhir di perpustakaan atau bahkan berakhir di museum dan akan diingat orang sepanjang masa sebagai buku yang berguna dan membawa perubahan baik.

Jika perbuatan kita selalu memberikan manfaat bagi orang lain berarti hidup kita telah sukses. Semakin banyak manfaat yang kita berikan kepada orang lain berarti semakin sukses kita. Sebaliknya, ketika kita berbuat hanya untuk kepentingan diri sendiri berarti kita telah gagal dalam hidup. Semakin banyak perbuatan yang kita lakukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, bahkan orang lain merasa dirugikan atau merasakan keburukan dari perbuatan kita, maka semakin gagal hidup kita.

Menjalani kehidupan yang bermakna tidak terjadi secara kebetulan. Tidak juga karena keadaan tetapi karena pilihan. Untuk itu, ayo kita lakukanlah 1 hal berguna setiap hari sehingga dalam satu tahun kita melakukan 365 hal berguna. Karena kesuksesan kita adalah untuk menyukseskan orang lain. (diadaptasi dari berbagai sumber)

@hendraahong

Minggu, 01 Maret 2015

Senyuman untuk Kebahagiaan

Tertawa merupakan puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, ujung rasa suka cita. Namun tertawa tersebut adalah yang berlebihan sebagaimana dikatakan pepatah, "Janganlah engkau banyak tertawa, sebab banyak tertawa itu mematikan hati". Jika tidak mampu tertawa kita bisa tersenyum, dikatakan juga dalam hadits Rasulullah Saw. yang berbunyi, "Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah"(HR. Tirmidzi). Senyuman tak akan ada harganya bila tidak terbit dari hati yang tulus dan tabiat dasar seorang manusia.

Andai saja disuruh memilih antara harta yang banyak atau kedudukan yang tinggi dengan jiwa yang tenteram, damai, dan selalu tersenyum, pastilah kita memilih yang kedua. Sebab, apa artinya harta yang banyak bila wajah selalu cemberut? Apa artinya harta yang banyak bila jiwa selalu cemas? Apa artinya semua yang ada di dunia ini, bila perasaan selalu sedih seperti orang yang usai mengantar jenazah kekasihnya? Apa arti kecantikan seorang istri jika selalu cemberut dan hanya membuat rumah tangga menjadi neraka saja? Tentu saja seorang istri yang tidak terlalu cantik akan seribu kali lebih baik jika dapat menjadikan rumah tangga senantiasa laksana surga yang menyejukkan setiap saat.

Ada jiwa yang dapat membuat setiap hal terasa berat dan sengsara. Tapi, ada pula jiwa-jiwa yang mampu membuat setiap hal menjadi sumber kebahagiaan. Hidup ini adalah seni bagaimana membuat sesuatu. Dan seni harus dipelajari serta ditekuni. Banyak orang yang tidak mampu melihat indahnya kehidupan ini. Mereka hanya membuka matanya untuk harta semata. Padahal harta tidak sepenuhnya membeli kebahagiaan. Oleh karena itu, hidup yang hanya sebentar dan sebagai tempat persinggahan ini harus kita jadikan sebagai ajang mencari keridhaan Allah dan memberi manfaat ke orang banyak dan lingkungan kita. Karena kita sukses untuk menyukseskan. (diadaptasi dari Novel La Tahzan)

@hendraahong

Membaca Panic Buying BBM dari Ilmu Perilaku Konsumen

Oleh: Hendra Halim, M.E. (Sekretaris Pusat Riset Kita Kreatif Universitas Syiah Kuala | Dosen FEB Universitas Syiah Kuala) Dalam beberapa ha...