Selasa, 31 Maret 2015

Udah Shalat Belum?


Dalam Islam shalat merupakan tiang agama, bagi siapa tidak mendirikannya berarti dia turut andil dalam meruntuhkan agama. Rasulullah bersabda, “Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama.” (HR. Bayhaqi). Selain itu mendirikan shalat merupakan rukun islam yang ke dua. Dalam Al-Qur'an terdapat beberapa ayat yang menyerukan tentang mendirikan shalat, yaitu:

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu.”
(QS. Thaha: 14)
“Dan dirikanlah olehmu shalat, karena sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”
(QS. Al-Ankabut: 45)
“Wahai orang-orang beriman! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)
“Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya.”
(QS. Al-Mu’minuun: 1-2)

Selain itu, di dalam hadist Rasulullah terdapat beberapa yang berkaitan dengan shalat, yaitu:

“Yang pertama-tama diperhitungkan terhadap seorang hamba di hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang sholatnya. Apabila shalatnya baik, maka dia beruntung dan sukses. Apabila shalatnya buruk, maka ia kecewa dan merugi.”
(HR. An-Nasa’i, At-Turmudzi)
“Sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya ialah dikala hamba itu bersujud (didalam Shalat). Maka banyak-banyaklah berdo’a didalam sujud itu. Perbanyaklah sujud kepada Allah. Sesungguhnya bila sujud sekali saja Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu dosamu.”
(HR. Muslim)

Berikut beberapa dosa apabila kita meninggalkan shalat:
1.      Shalat Subuh : satu kali meninggalkan akan dimasukkan ke dalam neraka selama 30 tahun yang sama dengan 60.000 tahun di dunia.
2.      Shalat Zuhur : satu kalo meninggalkan dosanya sama dengan membunuh 1.000 orang umat islam.
3.      Shalat Ashar : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan menutup/meruntuhkan ka’bah.
4.      Shalat Magrib : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan berzina dengan orang tua.
5.      Shalat Isya : satu kali meninggalkan tidak akan di ridhoi Allah Swt. tinggal di bumi atau di bawah langit serta makan dan minum dari nikmatnya.

Berikut beberapa keutamaan mengerjakan shalat fardhu:

1.    Shalat Dzuhur. Pada saat itu nyalanya neraka Jahanam.
Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat pada ketika itu akan diharamkan ke atasnya uap api neraka jahanam pada hari kiamat.
2.    Shalat Ashar adalah saat dimana Nabi Adam a.s memakan buah khuldi.
Orang-orang mukmin yang mengerjakan shalat Asar akan diampunkan dosanya
seperti bayi yang baru lahir.
3.    Shalat Maghrib Adalah saat dimana taubat Nabi Adam a.s diterima. Seorang mukmin yang ikhlas mengerjakan shalat Maghrib kemudian berdo’a dan meminta sesuatu dengan khusyuk kepada Allah Swt. maka Allah Swt. akan memperkenankan.
4.    Shalat Isya’. Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dengan malam yang gelap untuk menunaikan shalat isya’ berjamaah, Allah Swt. haramkan dirinya daripada terkena nyala api neraka dan diberikan kepadanya cahaya untuk menyeberangi Titian Sirath.
5.    Shalat Subuh. Adalah sebelum terbit matahari. Ini karena
apabila matahari terbit, terbitnya di antara dua tanduk syaitan dan disitu sujudnya setiap orang kafir. Maka Seorang mukmin yang mengerjakan shalat Subuh selama 40 hari secara berjamaah, diberikan kepadanya oleh Allah S.W.T dua kebebasan, yaitu :
a.    Dibebaskan daripada api neraka.
b. Dibebaskan dari Nifaq (berbuat amal kebajikan didepan orang lain, supaya orang lain itu mengira bahwa ia orang yang ikhlas beramal, tetapi sebenarnya ia tidak ikhlas sama sekali).

Untuk itu marikah kita dirikan shalat dan kita jaga shalat kita agak dapat khusyuk, sehingga keridhoan Allah dapat menghampiri kita semua. Aamiin. 

@hendraahong

Sabtu, 28 Maret 2015

Saya Bangga Menjadi Muslim


Kita harus bersyukur kepada Allah Swt. atas berkah dan limpahan segala nikmatnya yang tidak dapat kita hitung sehingga kita dapat terlahir didunia ini menjadi salah satu makhluk-Nya yang hidup di dunia ini. manusia ditetapkan sebagai makhluk yang memiliki kelebihan, keunggulan dalam struktur jasmani dan ruhani dibanding makhluk-makhluk lainnya. Allah Swt. memberi kepada kita kemampuan membaca dan menulis, kemampuan untuk menjelaskan, kekuatan untuk memahami ayat-ayat-Nya yang tersurat dan tersirat, diantara ayat-ayat-Nya yang tidak tertulis adalah fenomena di alam raya ini. Selain itu juga kita di lahirkan dalam keadaan Islam juga merupakan nikmat yang paling berharga dan sangat patut kita syukuri. Allah berfirman, "Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali-Imran: 85).



Untuk orang-orang yang dilahirkan bukan dalam keadaan muslim, maka hanya dengan seizin Allah-lah dia akan mendapatkan hidayah untuk ikut memeluk Islam. “Sesungguhnya kenikmatan beragama hanya Aku berikan kepada hamba yang Aku pilih dari hamba-hamba Ku yang shalih.” (Al-Hadist). Untuk itu, kita harus mensyukuri nikmat ini dan membanggakan agama yang kita anut ini dengan berbuat sesuai ketentuan-ketentuan yang telah dibuat-Nya. “Jika kamu mensyukuri nikmat-Ku, pasti akan Aku tambah. Tapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, ketahuilah bahwa adzab-Ku sangat pedih .”(QS. Ibrahim: 7).

Ada beberapa cara dalam Mensyukuri nikmat hidayah Islam, yaitu:
  1. Syukuri nikmat ini dengan menumbuhkan perasaan bahwa kita bangga dan mulia dengan beragama Islam. Kita harus merasa bangga, percaya diri bahwa kita adalah orang Islam. Katakan kepada semua orang dengan penuh kebanggaan, ”Saya adalah orang Islam. Saya adalah umat tauhid. Saya adalah umat al-Qur’an. Saya adalah umat Muhammad saw.”
  2. Kita adalah rahmat untuk seluruh umat manusia. Rahmat bagi yang jauh dan dekat. Rahmat dalam keadaan damai dan keadaan perang. Rahmat untuk Muslimin dan Muslimat. Rahmat untuk manusia dan binatang. Rahmat untuk Muslim dan non-Muslim. Rahmat untuk lingkungan sosial kita. Al-Quran sendiri yang terdiri dari 114 surat, semuanya diawali dengan bismillahirrahmanirrahim kecuali surat at Taubah. Ini menunjukkan bahwa sifat yang menonjol, dan melekat pada diri Allah SWT adalah Ar Rahman dan Ar Rahim. Rahmat-Nya agung, Rahmat-Nya selalu mengalir, membasahi seluruh alam. Panutan kita Rasulullah saw dalam peri hidupnya memiliki sikap kasih sayang. Demikianlah Allah swt memuliakan kita dengan Al-Qur’an dan Rasul-Nya.
  3. Bila kewajiban kita adalah mensyukuri nikmat Islam, maka kita harus bangga dengan Islam, dan itu artinya kita harus istiqamah dan konsisten serta konsekueen dengan ajaran Islam. Tidak cukup dengan kata-kata bahwa kita adalah Muslim, tapi kita harus mengamalkan apa yang diajarkan oleh Islam. Islam harus mewarnai kehidupan kita, dalam cara berpikir, bersikap, merasa, dan dalam seluruh gaya hidup kita semuanya. Islam sebagai pengarah tunggal dalam segala aspek kehidupan kita. Aspek ideologi, politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan pertahanan keamanan.

Marilah kita jadikan Islam sebagai darah daging kita dan jati diri kita. Di sinilah rahasia kemuliaan, kejayaan dan kemenangan kita secara mikro dan makro. Tunjukkan keislaman kita dengan bentuk apa saja; kepribadian, perilaku, pekerjaan dan hubungan. Di mana saja dan kapan saja. Sebab, jika orang Islam tak bangga dengan Islam-nya, di situlah salah satu indikasi awal kemunduran Islam terjadi. Wallahu a’lam. (Adaptasi dari sumber: Islam Itu Indah).

@hendraahong

Kamis, 26 Maret 2015

Makna Kehidupan

Sumber Gambar
Jangan biarkan hari itu (kematian) menjadi hari pertamamu mengetahui apa makna sebenarnya dari kehidupan. Dunia ini ibarat bayangan: kejar dia dan engkau tak akan pernah bisa menangkapnya; balikkan badanmu darinya dan dia tak punya pilihan lain kecuali mengikutimu - Ibnu al-Qayyim. Ada beberapa makna hidup yang ada di dalam Al-Qur'an, yaitu: 

  1. Hidup adalah Ibadah. Pada intinya arti hidup dalam Islam adalah beribadah. Keberadaan kita di dunia ini tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah Swt. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Al-Dzâriyât: 56).
  2. Hidup adalah Ujian. ”(Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk: 2).
  3. Kehidupan Akhirat Lebih Baik Dari Kehidupan Dunia. “Dan sesungguhnya Akhirat itu lebih baik untukmu dari dunia.” (QS: Adh-Dhuha: 4).
  4. Hidup Di Dunia adalah Sementara. "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal." (QS. Al-Mu'min: 39).

Tips menjadikan hidup lebih bermakna:
  1. Jika hidup ini adalah ibadah, maka pastikan semua aktivitas yang kita lakukan berniatkan ibadah. Pastikan aktivitas yang dilakukan sesuai dengan tuntunan syariah.
  2. Jika hidup ini adalah ujian, berarti kita harus menjalani hidup dengan penuh kesabaran.
  3. Jika kehidupan akhirat itu lebih baik, maka kita harus memprioritaskan kehidupan akhirat. Bukan berarti meninggalkan kehidupan dunia, tetapi menjadikan kehidupan dunia sebagai bekal menuju akhirat.
  4. Jika hidup di dunia hanya sementara, maka perlu kesungguhan dalam beramal. Tidak ada lagi santai, mengandai-andai, panjang angan-angan karena hidup kita hanya sementara di dunia ini. Bergeraklah sekarang, bertindaklah sekarang, dan berlomba-lomba dalam kebaikan. (Sumber: Motivasi Islam)
Jangan lupa untuk menyaksikan video diatas, semoga dapat menginspirasi saya khususnya dan saudara-saudari pada umumnya sehingga membawa kita menjadi umat yang lebih mengetahui makna dari kehidupan ini. 

@hendraahong

Rabu, 25 Maret 2015

Mengapa Kita Membutuhkan Agama?

Sumber gambar
Banyak orang didunia ini memeluk agama tertentu, seperti Islam, Kristen, Budha, Konghuchu, dan lain sebagainya. Tapi barangkali hanya sedikit orang yang mengetahui dengan tepat apa itu agama dan mengapa ia beragama. Karenanya tak mengherankan jika banyak pula orang yang mengaku memeluk suatu agama namun ia tak tahu bagaimana ia mengamalkan agamnya. Padahal, mengenal agama seharusnya berada pada tahapan awal sebelum mengamalkan ajarannya. Maka perlu kiranya seseorang memahami mengapa manusia perlu beragama? Dan apa pula hakikat agama itu? Jawaban kedua pertanyaan ini seharusnya diajukan oleh tiap orang yang memeluk sebuah agama.

Agama menurut kamus adalah kepercayaan akan adanya kekuatan pengontrol yang melebihi manusia yaitu Tuhan atau dewa-dewa yang disembah. Dalam Islam, kata Bahasa Arab yang digunakan adalah Diin. Diin dalam Islam artinya pandangan (cara) hidup. Jadi apabila ditanyakan, mengapa kita membutuhkan agama (pandangan hidup)?  dan mengapa kita perlu mengerti sebagaimana kamus, agama artinya mempercayai adanya Tuhan. Jadi Mengapa kita harus memahami Tuhan? Alasannya adalah misalkan kita membeli mesin, sebuah mesin yang kompleks, dilengkapi dengan buku panduan. Karena kita tidak tahu (pengoperasian) mesinnya. Jika kita mengibaratkan manusia sebagai mesin, kita setuju bahwa manusia merupakan 'mesin' yang paling kompleks di muka bumi. Jadi apakah kita berfikir manusia tidak memerlukan buku pedoman? Buku pedoman terakhir dan final untuk manusia adalah Al-Qur'an.

Seperti yang kita ketahui, buku panduan ditulis oleh produsen atau pabrikan, atau pencipta. Pencipta, pembuat, kreator kita adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi, Dia mengetahui hal-hal terbaik untuk umat manusia. Berdasarkan hal ini, Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan peraturan dan Wahyu-Nya. Sebagai contoh, jika kita membeli DVD Player, jika kita ingin memutar DVD, maka masukkan kasetnya, tekan tombol Play. Jika kita ingin mendengar lagu selanjutnya maka tekan tombol Next. Jika ingin berhenti, tekan tombol Stop. Jangan menjatuhkan DVD Player ini dari ketinggian atau mesin akan rusak. Jangan mendemontrasikannya tanpa buku pedoman. 

Demikian pula, Allah Swt. melalui Al-Qur'an telah memberikan pedoman pada umat manusia dan Tuhan Yang Maha Kuasa hanya akan mengirimkan satu agama. Dengan jelas di Al-Qur'an, Surah Ali-Imran ayat 19 yang berbunyi,"Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam." Seluruh wahyu terdahulu memiliki dasar pesan yang sama, yaitu beriman pada satu Tuhan, menyembah Tuhan Yang Benar (yang tidak dapat digambarkan), Yang Tidak Pernah Tidur, kita harus patuh. Dasar pesannya adalah sama. Namun karena perubahan yang terjadi pada kitab-kitab terdahulu, Tuhan Yang Maha Kuasa menyampaikan wahyu terakhir, yaitu Al-Qur'an. Dan Allah berfirman pada Surat Al-Hijr ayat 9 yang berbunyi,"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memliharanya."

Jadi, karena Al-Qur'an merupakan wahyu terakhir, Allah Swt. mengatakan bahwa Ia akan menjaga Al-Qur'an dari penyimpangan. Berdasarkan alasan ini, hari ini seluruh umat manusia di dunia harus mengikuti nabi terakhir, yaitu Muhammad Saw. dan wahyu kitab terakhir, yaitu Al-Qur'an. Seluruh kitab terdahulu (sebelum Al-Qur'an) terikat terhadap waktu dan ditujukan untuk umat tertentu, tidak ditujukan untuk seluruh umat manusia dan pesan (wahyu) terdahulu diikuti hingga pesan terakhir datang. Allah Swt. lalu menghendaki untuk menyelesaikan pesan-Nya (wahyu-Nya). Saat wahyu (kitab) terakhir telah disampaikan dan tidak ada wahyu yang akan datang, Allah berfirman bahwa "Wahyu ini tidak hanya ditujukan untuk bangsa Arab, Al-Qur'an ditujukan untuk seluruh umat manusia." Baik di Dubai, India Indonesia, Cina, Arab Saudi, Eropa, Amerika, dll. seluruh umat manusia di dunia harus mengikuti wahyu terakhir dan final (Al-Qur'an) dan nabi terakhir Nabi Muhammad Saw.
(Dr. Zakir Naik - Youtube)

@hendraahong 


Senin, 23 Maret 2015

Hidup Seperti Air, tapi Bukan Seperti Air Mengalir

Sumber Gambar
Segala yang di ciptakan Allah di muka bumi ini pasti memiliki manfaat dan tugasnya masing-masing. Salah satunya adalah air. Selain menjadi sumber kehidupan, air juga memiliki beberapa sifat unik yang bisa kita jadikan bahan renungan dan dapat kita aplikasikan ke filosofi kehidupan kita selama di dunia untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat kelak. Berikut beberapa filosofi dari sifat air yang bisa kita jadikan filosofi dalam hidup.
  1. Air Selalu Dibutuhkan Keberadannya. Artinya bahwa kita sebagai orang mukmin harus bisa memberi manfaat buat saudara kita. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. 21 : 107)
  2. Air Berubah Bentuk Sesuai Wadah tetapi Tidak Berubah Sifat. Air apabila kita masukkan ke cangkir, maka akan mengikuti bentuk cangkir itu dan apabila dikita masukkan ke dalam botol juga akan mengikuti bentuk botol tersebut tetapi tidak merubah sifatnya. Jika kita implementasikan dalam kehidupan berarti kita harus tetap mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju dengan syarat dimanapun kita berada hendaklah kita tetap mempunyai kepribadian yang kuat, keimanan yang teguh, yang tidak mudah terpengaruh oleh perubahan kondisi dan lingkungan tersebut.
  3. Air Mengalir Ke Tempat yang Lebih Rendah. Air memberikan pelajaran kepada kita bahwa dalam kehidupan dunia ini kita mestinya melihat kebawah, membantu yang lemah, berpihak kepada orang-orang yang hidupnya dalam kesengsaraan.
  4. Air Memberi Kesejukan. Disini air memberikan pelajaran kepada kita bahwa kita di dunia ini, sudah sepatutnya kita bisa memberikan kesejukan kepada orang lain, bukan membuat kerusakan dan keonaran.
  5. Air Mengalir Ke Muara. Tak peduli seberapa jauh jaraknya dari muara, air pasti akan tiba di sana. Sebenarnya saya tidak setuju dengan orang yang menggunakan pepatah “hiduplah mengalir seperti air” untuk menguatkan gaya hidup yang tidak punya arah dan serampangan. Justru sebenarnya dengan kita meniru air yang mengalir, kita seharusnya punya visi kehidupan. Hal utama yang patut diteladani dari perjalanan air menuju muara adalah sikapnya yang konsisten. Bayangkan, ada berapa banyak hambatan yang dilalui oleh air gunung untuk mencapai muara? Mungkin ia akan singgah di sungai, tertahan karena batu, kemudian bisa saja masuk ke selokan. Tapi toh akhirnya ia tetap mengalir dan tiba di muaranya. Waktu tempuh air untuk sampai ke muara sangat bervariasi. Ada yang hanya beberapa hari, tapi ada juga yang beberapa minggu. Patut diingat, hal terpenting bukanlah waktu tempuh yang akan dilalui, tapi seberapa besar keyakinan untuk menuju muara atau visi atau impian yang akan kita gapai.
  6. Air Mempunyai Sifat Membersihkan. Tentunya tidak semua air bisa membersihkan, air yang bisa membersihkan tentunya harus air yang bersih juga. Hikmahnya buat kita, hendaklah kita menjadi pribadi yang bisa mempengaruhi orang lain untuk berada dijalan yang baik, benar dan bersih, dan untuk itu tentunya kita harus membersihkan diri sendiri terlebih dahulu tentunya.
  7. Air Tidak Bisa Dibelah, Selalu Mengalah Tapi Tidak Pernah Kalah. Sobat perhatikan saat air dikolam atau dimanapun, dengan cara apapun ia dibelah tetap ia akan bersatu kembali. Dengan satu hentakan pukulan keras mungkin air tersebut tercerai-berai menciprat kesegala arah. Tapi ia akan tetap kembali bersatu lagi. Hikmahnya buat kita, apalagi kalau bukan semangat persatuan dan persaudaraan. Air sangat mudah berbaur dengan sesama air, sudah selayaknya kita juga bisa berbaur dan bersatu-padu antar sesama manusia terlebih lagi disatu bangsa yang sama. “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Ar-Ra’d: 17).

Demikian beberapa filosofi sifat air yang dapat kita terapkan ke kehidupan kita agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan selalu di ridhoi oleh Allah Swt.


@hendraahong

Jumat, 20 Maret 2015

Kebahagiaan Terbesar Orang Tua adalah Anaknya yang Menjadi Imam Shalat Jenazahnya


Sumber gambar:
 http://www.radar-bekasi.com/wp-content/uploads/2012/02/F-KORBAN-HANYUT.gif
Setiap manusia pasti akan bertemu dengan kematian, cepat atau lambat, saat masih kecil, remaja, ataupun tua. Pada akhirnya semua akan menghadapinya. Untuk itu kita harus mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya. “Jika sesorang manusia meninggal dunia, maka amalnya terputus, kecuali dari tiga hal, yaitu dari sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim, Tirmidzi, Nasai, Abu Dawud, Ahmad dan Darimi)

Berdasarkan hadits tersebut, bisa kita simpulkan bahwa hal-hal yang harus kita siapkan dalam menuju kematian adalah amal saleh yang ikhlas karena Allah Swt. Selain itu, kita juga membutuhkan investasi amal yang akan tetap mengalir walaupun kita sudah meniggal dunia, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang senantiasa selalu mendoakan kita setelah kematian.

Sumber gambar: https://asalehudin.files.wordpress.com/2009/04/9-gambar-91.jpg
Sedekah jariyah merupakan mewakafkan harta yang kita miliki untuk jalan kebajikan, seperti mewakafkan tanah untuk pembangunan mesjid atau kuburan, menyumbangkan harta untuk pembangunan mesjid, dan lain sebagainya. Ilmu yang bermanfaat bisa diartikan dengan mengajarkan ilmu pengetahuan yang baik yang kita miliki kepada orang yang belum mengetahuinya, selain itu membuat buku juga termasuk membagikan ilmu yang bermanfaat. 

Anak merupakan penerus generasi dalam keluarga, jika kita mendidiknya dengan baik maka penerus keluarga kita akan menjadi baik, tetapi ketika kita salah dalam mendidiknya maka anak tersebut bisa merusak nama baik keluarga yang selama ini dijaga baik. Orang tua senang anaknya sukses di dunia, menjadi orang hebat berpangkat, memiliki harta kekayaan yang melimpah dan mencukupi semua kebutuhan orang tuanya. Tapi tak jarang anak yang memiliki semua itu terlalu sibuk sehingga melupakan orang tuanya, jarang menemui orang tuanya, sibuk kesana-kemari, bahkan untuk sekadar menanyakan kabar lewat telepon pun tak sempat.


Anak yang soleh merupakan impian setiap orang tua. Sehingga ketika orang tua akan meninggal, anak-anaknyalah yang berada di sekeliling orang tuanya untuk membantu orang tuanya mentalqin lafadz "laailahailallah...", setelah itu anaknyalah yang memandikan orang tuanya, menggosok tubuhnya membasuh tubuh orang tuanya hingga bersih, kemudian membantu mengkafankan orang tuanya, setelah itu menjadi imam shalat jenazah orang tuanya, dan mengantarkan jenazah untuk kemudian membantu mengukuburkan jenazah orang tuanya tersebut. Setelah itu, anaknya senantiasa selalu menyertakan nama kedua orang tuanya dalam doa-doanya.

"Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, sehatkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air, es dan embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, berilah ia tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka." ( HR Muslim ).

Hal tersebut merupakan kebanggaan terbesar orang tua kepada anaknya. Memang tidak harus anak yang menyolatkan orang tua, siapa pun yang sudah cukup syarat boleh. Namun, sebaiknya memang anak dari orang yang meninggal itulah yang menyolatkannya karena itu adalah salah satu tanda bukti cinta dan bakti terakhir kita kepada orang tua. Mari kita bayangkan, betapa sedihnya jika ada orang tua yang meninggal namun anaknya tidak mau menyolatkan, padahal itu terakhir kalinya anak tersebut dapat memberikan kasih sayangnya kepada orang tua.


“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau ingin maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Dalam hadits lain beliau juga bersabda, “Celaka, celaka, celaka!” Ada yang bertanya,”Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya telah berusia lanjut, tetapi tidak membuatnya masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim). Maka dari itu sebaiknya saat ini dimana orang tua kita masih ada dan dalam keadaan sehat wal afiat dapat kita pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk berbakti kepada mereka.

@hendraahong

Kamis, 19 Maret 2015

Anak Laki-laki: Orang Tua Dahulu Kemudian Istri, Anak Perempuan: Suami Dahulu Kemudian Orang Tua


Sumber gambar: http://htkaskus.com/wp-content/uploads/2014/11/98.jpg
Pada zaman sekarang ini hukum Islam dalam berbagai aspek kehidupan sering terlupakan, padahal apabila kita menerapkannya dengan sebenar-benarnya kehidupan didunia ini dirasa lebih bahagia. Salah satu aspek hukum Islam yang mulai dilupakan oleh penganutnya adalah perihal keutamaan orang tua bagi anak laki-laki daripada istrinya. “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “kemudian siapa lagi?” beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” dia menjawab: “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Tirmidzi, Ahmad).


Bagi anak laki-laki, walaupun sudah menikah tidak boleh melepaskan tanggung jawab terhadap orang tuanya. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Israa : 23).

Sumber gambar:
https://abuhudzaifahthalibi.files.wordpress.com/2012/03/baktiku.jpg
Laki-laki wajib membelanjai istri dan anaknya dan wajib terus memperhatikan nasib ibu dan ayah kandungnya. Anak laki-laki yang dewasa, lalu menikah, ibunya lebih berkuasa terhadap dirinya dari pada istrinya. Kalau si ibu jahat, maka celakalah rumah tangga anak laki-laki kandungnya. Karena ibu lebih berhak kapada anak laki-laki kandungnya, maka anak laki-laki harus berusaha menjaga perasaan ibunya. “Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu meminta izin untuk ikut berjihad. Maka Beliau bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Laki-laki itu menjawab: “Iya”. Maka Beliau berkata: “Kepada keduanyalah kamu berjihad (berbakti) “. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, Nasa’i)

Sedangkan bagi anak perempuan, setelah dia menikah, pengabdian anak perempuan putus dan beralih kepada suaminya. Jadi, beruntunglah anak-anak perempuan karena beban mereka tidak seberat beban anak laki-laki. ”Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya” (apabila sudah menikah). Aisyah Ra bertanya lagi, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya” (HR. Muslim)

Bentuk ketaatan seorang istri pada suaminya digambarkan melalui hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa (sunnah) sementara sementara suaminya ada di rumah, kecuai dengan seizinnya. Dan tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan seizinnya. Dan sesuatu yang ia infakkan tanpa seizinnya, maka setengahnya harus dikembalikan pada suaminya.” (HR. Bukhari, Ahmad, Abu Daud, Darimi).


Tetapi sebagai suami kita juga harus bertanggung jawab atas istri dan anak-anak. "Takutlah kalian kepada Allah dalam memperlakukan istri-istri kalian, sesungguhnya kalian menikahi mereka dengan amanah Allah, menghalalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah, dan kalian juga berkewajiban untuk memberi nafkah serta pakaian kepada mereka dengan baik." (HR. Muslim).


"(Kewajibannya adalah) Memberi makan kepada istrinya apabila dia makan, mengenakan pakaian kepadanya jika dia memakai baju, tidak menghinanya, tidak memukul kecuali pukulan yang tidak membahayakan, tidak juga meninggalkannya kecuali di dalam rumah.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa'i, dan Ibnu Maajah).  Apabila kita diberi kecukupan rezeki oleh Allah Swt. selain menafkahi orang tua, istri dan anak alangkah baiknya kita juga membantu menafkahi mertua dan membantu saudara-saudara kita yang lain. “Satu dinar yang kalian belanjakan dijalan Allah, satu dinar yang kalian belanjakan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kalian nafkahkan untuk fakir miskin, dan satu dinar yang kalian belanjakan untuk keluargamu, (di antara itu semua) yang lebih besar pahalanya adalah satu dinar yang kalian belanjakan untuk keluargamu.” (HR. Muslim).

Oleh karena itu, mari kita tegakkan kembali hukum Islam, sehingga kehidupan kita diridhoi Allah dan membawa kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin.

@hendraahong

Membaca Panic Buying BBM dari Ilmu Perilaku Konsumen

Oleh: Hendra Halim, M.E. (Sekretaris Pusat Riset Kita Kreatif Universitas Syiah Kuala | Dosen FEB Universitas Syiah Kuala) Dalam beberapa ha...