Kadang kita merasa bersalah hanya karena sedang tidak melakukan apa-apa.
Bangun agak siang, rebahan terlalu lama, tidak membaca buku, tidak olahraga, tidak menyelesaikan pekerjaan, lalu malamnya muncul pikiran: Hari ini aku menghasilkan apa?
Seolah-olah setiap hari harus punya pencapaian. Harus produktif. Harus berkembang. Harus ada sesuatu yang bisa diperlihatkan.
Padahal, kita manusia. Bukan mesin produksi.
Media sosial membuat hidup terlihat seperti perlombaan yang tidak pernah berhenti. Ada yang baru lulus, dapat pekerjaan, membuka bisnis, menikah, membeli rumah, atau mengumumkan pencapaian baru. Sementara kita masih berada di kamar, mencoba mengumpulkan tenaga untuk menjalani hari berikutnya.
Akhirnya, istirahat terasa seperti kemunduran.
Kita lupa bahwa tidak semua hal yang penting harus menghasilkan uang, sertifikat, penghargaan, atau unggahan yang mengesankan. Tidur yang cukup juga penting. Mengobrol dengan teman tanpa tujuan juga berharga. Menonton film, berjalan santai, mendengarkan musik, atau sekadar diam sambil memahami isi kepala sendiri juga bagian dari hidup.
Tidak semua waktu harus diubah menjadi prestasi.
Tentu, memiliki tujuan itu baik. Bekerja keras juga perlu. Namun, hidup akan terasa sangat melelahkan kalau nilai diri selalu ditentukan oleh seberapa banyak yang kita hasilkan.
Kamu tetap berharga meskipun hari ini tidak produktif.
Kamu tidak menjadi manusia gagal hanya karena sedang lelah. Tidak semua fase hidup harus diisi dengan berlari. Ada masa untuk maju, ada masa untuk berhenti, dan ada masa ketika satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah bertahan.
Dan bertahan pun merupakan sebuah pencapaian.
Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan, “Hari ini aku menghasilkan apa?”
Melainkan, “Hari ini aku benar-benar hidup atau hanya sibuk membuktikan sesuatu?”
Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berapa banyak karya yang selesai, target yang tercapai, atau angka yang bertambah. Hidup juga tentang momen-momen kecil yang tidak bisa dimasukkan ke dalam portofolio.
Tertawa bersama orang terdekat. Merasakan udara sore. Makan tanpa terburu-buru. Pulang ke rumah dengan hati yang lebih tenang.
Jadi, tidak. Hidup tidak harus terus menghasilkan sesuatu.
Kadang-kadang, hidup cukup dijalani.
Dan kamu tidak perlu meminta maaf karena memilih untuk bernapas sejenak.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3586629/original/093683800_1632884455-jump-5266634_1280_1_.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar