Kita hidup di masa ketika semua orang seperti sedang berlomba untuk terbang setinggi mungkin.
Harus cepat lulus. Cepat dapat pekerjaan. Cepat punya penghasilan besar. Cepat menikah. Cepat punya rumah. Cepat sukses sebelum usia tertentu. Bahkan ketika sudah mencapai sesuatu, kita masih ditanya, “Setelah ini mau ke mana lagi?”
Seolah-olah hidup hanya dianggap berarti jika terus naik.
Padahal, tidak semua orang sedang ingin menembus awan. Sebagian dari kita hanya sedang berusaha agar tidak jatuh.
Ada orang yang hari ini belum mampu berlari mengejar impian karena masih sibuk menyembuhkan diri. Ada yang terlihat berjalan lambat karena harus membantu keluarga. Ada yang kariernya belum melesat, tetapi setiap hari tetap datang, bekerja, dan bertahan. Ada juga yang pencapaiannya mungkin tidak pernah masuk media sosial, tetapi berhasil bangun dari tempat tidur setelah melewati malam yang berat.
Apakah itu bukan sebuah kemajuan?
Puisi singkat Wang Jibing mengingatkan bahwa terbang tidak harus selalu tinggi. Kita tidak perlu mencapai ketinggian yang sama dengan orang lain untuk membuktikan bahwa sayap kita bekerja.
Terbang rendah bukan berarti gagal.
Mungkin kita belum sampai ke tempat yang diinginkan. Mungkin langkah kita lebih kecil daripada orang lain. Mungkin hidup kita terlihat biasa saja. Namun selama kita masih bergerak, masih mencoba, dan masih punya keberanian untuk melanjutkan perjalanan, kita tetap sedang terbang.
Masalahnya, kita sering terlalu sibuk memandang orang-orang yang terbang di atas kita. Kita melihat pencapaian mereka, tetapi tidak melihat angin yang mereka hadapi. Kita membandingkan hasil akhir mereka dengan proses awal kita sendiri.
Akhirnya, penerbangan yang seharusnya dinikmati berubah menjadi perlombaan yang melelahkan.
Barangkali kita perlu berhenti sebentar dan bertanya: apakah aku benar-benar ingin terbang tinggi, atau aku hanya takut dianggap tertinggal?
Tidak ada yang salah dengan ambisi. Bermimpi tinggi adalah hal yang baik. Namun, hidup tidak selalu harus dijalani dengan kecepatan penuh. Ada masa untuk terbang tinggi, ada masa untuk terbang rendah, dan ada masa ketika kita hanya perlu beristirahat sambil menjaga sayap agar tidak patah.
Jangan meremehkan dirimu hanya karena pencapaianmu belum sebesar orang lain. Bisa jadi, bertahan sampai hari ini sudah menjadi penerbangan terjauh yang pernah kamu lakukan.
Kita tidak harus selalu berada di puncak untuk merasa hidup.
Kadang-kadang, terbang rendah membuat kita bisa melihat hal-hal yang terlewat oleh mereka yang terlalu sibuk mengejar langit, diantaranya keluarga yang tetap menunggu, teman yang tulus menemani, tubuh yang perlu dijaga, serta diri sendiri yang selama ini terlalu sering dipaksa.
Jadi, tidak apa-apa apabila perjalananmu belum tinggi. Tidak apa-apa jika langkahmu hari ini kecil. Tidak apa-apa jika hidupmu belum terlihat mengesankan.
Selama sayapmu masih mengepak, sekecil apa pun gerakannya, kamu belum berhenti.
Kamu tetap terbang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar